Cara Menjalani Hidup

Ayah saya jelas tak sempurna. Ibu saya juga. Apalagi saya. 

Sebenarnya semua orang juga. Hanya saja seringkali tak banyak yang mau mengakuinya.  Apalagi memperbaiki diri.

Saya sendiri tipikal kebalikannya. Hampir setiap hari melakukan introspeksi. Dan kesulitan terbesar justru saat di usia dua puluhan saya mengalami benturan nilai dengan ayah saya, kemudian juga ibu saya.
Benturan itu terkait prinsip hidup, hal-hal yang dipandang penting dalam hidup dan cara menjalani hidup. Saya di sini hanya membahas yang terakhir, itu pun hanya di permukaan saja.

Di beberapa tulisan sebelumnya saya sempat membahas sepintas tentang kondisi keuangan orangtua saya. Dari situ bisa tergambar kalau mereka sangat konservatif. Investasi dan asuransi adalah hal yang asing. Pola penyimpanan materinya berkisar pada tabungan dan derivatifnya, serta properti dan logam mulia. 

Wisata adalah hal yang dianggap tak perlu. Begitu pula kemewahan. Namun, di rumah makanan dan pakaian selalu melimpah. Begitu juga barang-barang lainnya. Mereka berdua menderita “hoarding”. Juga ceroboh dan abai pada dokumen penting. Hingga kini, saya dan istri masih berkutat mencari beberapa dokumen yang terselip di antara banyaknya barang-barang mereka.

Mereka menjalani hidup dengan “tegang”. Agak sulit menuliskannya dengan singkat di tulisan pendek ini. Namun, itu jelas berimbas pada saya, anak tunggal mereka. Saya setengah mati berusaha bersikap “santai”, yang oleh mereka kerap disalahartikan sebagai “malas”. 

Kedua orangtua saya perfeksionis, namun hanya Ibu yang pedantis, bahkan cenderung O.C.D.*) Ibu sebenarnya cenderung rapi, tapi ayah tidak. Dan sepanjang saya menjadi anak mereka, hanya beberapa tahun saja saya merasakan “rapi ” di rumah mereka. Kini, saya dibantu istri juga masih berjuang merapikan rumah yang mereka tempati. 

Pendeknya, banyak sekali cara hidup mereka yang saya tidak ikuti. Termasuk pola asuh-didik anak. Dan saya sudah selesai memilih serta memilahnya. Mana yang baik tentu saya teladani. Apa yang negatif saya jadikan pelajaran. 

Catatan:
*) O.C.D.: Obsessive Compulsive Disorder

{Tulisan ini merupakan bagian kedelapan dari serial “Pelajaran Kehidupan Dari Wafatnya Ayahanda.”}

[Tulisan ini semula diunggah sebagai status di account FaceBook (F.B.) utama penulis pada tanggal yang sama.]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s