Ayah Saya (Dan Saya Juga) Bukanlah Suami Takut Istri

Foto ilustrasi yang saya unggah di tulisan ini adalah tangkapan layar (screenshot) dari komedi situasi (komsit) berjudul “Suami-suami Takut Istri”. Ditayangkan di Trans TV sejak 15 Oktober 2007 hingga 2 April 2010. Sempat pula ditayangulangkan di NET. dari 5 Juni 2019 sampai dengan Agustus 2019. Serial besutan sutradara Sofyan de Surza ini diproduksi Multivision Plus. 

Apa yang menarik dari komsit ini adalah gambaran sebuah realita di masyarakat. Banyak suami yang takut pada istrinya begitu rupa, tidak memandang profesi dan postur tubuhnya. Ketakutan yang bak tahanan kepada yang menahannya, kalau tidak lebih mirip binatang piaraan kepada majikannya.

Di masyarakat kita, ada gurauan lelaki semacam itu adalah “anggota ISTI” (Ikatan Suami Takut Istri). Dan konyolnya, tak sedikit pula yang tidak ragu menyatakan dirinya “anggota ISTI”. Kelakuan mereka di pergaulan pun mencerminkan hal itu.

Saya jadi teringat pada teman kuliah dari pasangan saya sebelumnya. Saat kami sedang berkumpul untuk buka puasa bersama di Plaza Senayan, bahkan saat adzan Maghrib belum berkumandang, tiba-tiba teleponnya berdering. Pria tersebut -sebut saja namanya Mawar,hehe- langsung pucat pasi begitu melihat nama yang muncul di layar. Setelah bicara sebentar, terdengar teriakan di speaker ponselnya: “Pulang!” Mawar kaget, dengan terbata-bata pamit kepada teman-teman, dan langsung terbirit-birit pulang. Kami semua yang masih tinggal di situ, baik lelaki maupun wanita, semuanya tertawa terbahak-bahak sepeninggal si Mawar.

Nah, semenjak kecil, saya selalu diajarkan oleh ayah saya yang memang bangsawan Jawa untuk bersikap ksatria. Lebih ke “gentleman” istilah bahasa Inggrisnya, bukan ke “nobility“. Sebagai orang Jawa, pria adalah kepala keluarga dan pemimpin pengambil keputusan.

Posisi istri bagi lelaki Jawa sesuai dengan istilah kata “pasangan” dalam bahasa Jawa yaitu “garwo”. Ini kepanjangannya adalah “sigaraning nyowo” yang berarti: “belahan jiwa”. 

Ia ditempatkan sebagai pendamping. Sejajar namun dibimbing. 

Kesalahan terbesar para pria “anggota ISTI” adalah mereka tidak menyadari kalau mengidap “Oedipus Complex”. Mereka memilih istri yang kepribadian, karakter, dan sifatnya mirip ibunya. Bahkan saat sudah menikah, mereka jadi “anak tambahan” dari istrinya. 

Pengelolaan rumah tangga diserahkan sepenuhnya kepada istri. Padahal, seharusnya suamilah yang jadi nakhoda dari biduk rumah tangga. 

Hal itu antara lain tampak dari penyerahan seluruh penghasilan suami kepada istri. Sehingga, tiap hari si suami meminta ongkos dan “uang jajan” kepada istrinya. Itu tidak salah, tidak juga benar. Karena itu sesuai kesepakatan pasangan itu sendiri saat menikah.

Namun, saya diajarkan untuk tidak menempatkan istri sebagai “pengganti ibu”. Istri adalah ibu dari anak-anak bersama suami dan istri, bukan ibu dari suami. Dalam hal pengelolaan uang, sebagian sudah saya terangkan kemarin.
 
Ayah saya mengajarkan lelaki harus punya “duwit lanang”. Itu semacam dana taktis cadangan yang tak perlu diketahui istri. Sehingga “ora ilok” kalau suami harus meminta uang tiap hari kepada istri, seperti anak kepada ibunya.

Suami juga tak perlu izin istri untuk apa pun, hanya memberitahukan. Apalagi sampai “wajib lapor” menggunakan “video call”. Misalnya untuk berkumpul bersama teman lama atau menjalankan hobby-nya.
 
Namun, apabila terkait keputusan besar seperti menyekolahkan anak atau melibatkan uang dalam jumlah besar seperti membeli rumah, ada baiknya berdiskusi lebih dahulu dengan pasangan.

Begitulah satu hal dimana saya menuruni dan meneladani pandangan, sifat, dan kebiasaan ayah saya. Menjadi suami yang tidak takut istri merupakan pengejawantahan lelaki sejati. Bahasa Jawa-nya: “lelananging jagad”.

{Tulisan ini merupakan bagian keenam dari serial “Pelajaran Kehidupan Dari Wafatnya Ayahanda.”}

[Tulisan ini semula diunggah sebagai status di account FaceBook (F.B.) utama penulis pada tanggal yang sama.]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s