Nafkah, Materi, dan Hedonisme

Lihatlah foto yang saya unggah bersama tulisan ini. Cuma itu kartu bank yang saya temukan di dompet Ayah saya pasca beliau wafat. Terlihat hanya ada 3 bank di sana dimana Ayah saya menjadi nasabah.

Itu jauh tidak ada apa-apanya dibandingkan seorang kenalan yang pernah mentraktir saya dan beberapa teman lain. Ketika ia membuka dompet panjangnya… Wow! Tak kurang dari 30 kartu bank terlihat di sana. Horang kayah gaes…!!!

Dalam urusan uang, Ayah saya alhamdulillah mencukupi. Tapi saya tak mengklaim beliau sebagai “kaya”, hanya “berkecukupan” saja. Dan mental itulah yang hampir selalu ditanamkan beliau sepanjang hidupnya. 
 
Walaupun begitu, nafkah yang diberikan Ayah kepada Ibu saya tak pernah kurang. Beliau adalah tipe Suami Tidak Takut Istri, sifat yang juga saya warisi (soal ini saya bahas besok). Dalam soal keuangan, itu berarti Ibu saya diberi uang belanja mencukupi, tanpa sang istri tahu seberapa besar sebenarnya pendapatan sang suami.
 
Ingat, sekali lagi tidak ada benar-salah dalam soal ini. Karena segala hal dalam pernikahan adalah hasil kesepakatan antara pasangan.

Uang belanja berarti sekedar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja. Baik itu berupa belanja bahan makanan maupun hal-hal rutin seperti iuran listrik dan beragam jenis pungutan rutin lain. 

Akan halnya kebutuhan sekolah saya, membeli pakaian, sampai perbaikan dan pemeliharaan rumah seperti genteng bocor misalnya, di luar uang belanja. 
Artinya, ayah saya akan menyediakan dana tambahan. Jadi, bisa dibilang, sepanjang hidupnya, ayah saya telah sukses menafkahi keluarganya.

Soal materi, Beliau sama sekali tidak suka pamer. Sungguh pun uangnya ada, Beliau tidak suka berfoya-foya. Satu teladannya yang selalu saya ikuti hingga kini. 

Demikian juga soal pembelian barang, Beliau hanya akan membeli barang baru bila yang lama rusak. Dan secara tunai. Kartu kredit Beliau dibuat terkoneksi dengan satu rekening penampung bunga deposito, dan selalu auto debet. Jadi, andaikatapun perlu memakai kartu kredit, selalu langsung dibayar lunas bulan berikutnya. Tidak ada hutang sama sekali. Itu juga selalu saya ikuti. Beliau saat wafat nihil hutang apalagi kreditan. Insya Allah saya pun begitu hingga kini.

Karena teladan itulah, keluarga kami terjauh dari hedonisme. Tak ada gaya hidup mewah di keluarga kami. Jam tangan saja Beliau cuma punya satu dari merek kelas menengah. Padahal kalau mau, Beliau bisa saja membeli yang semodel milik Uya Kuya. Tapi tidak. Semua dana yang ada disimpannya untuk kondisi darurat. Dan untuk itulah saya sangat bersyukur dan meneladani cara Beliau. 

Walau dalam prakteknya, saya melakukan modifikasi di sana-sini. Tentu untuk menyesuaikan dengan kondisi dan situasi yang saya hadapi.

{Tulisan ini merupakan bagian kelima dari serial “Pelajaran Kehidupan Dari Wafatnya Ayahanda.”}

[Tulisan ini semula diunggah sebagai status di account FaceBook (F.B.) utama penulis pada tanggal yang sama.]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s