Pelajaran Kehidupan Dari Wafatnya Ayahanda

Ayah saya lahir di Desa Sumilir, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada 22-10-1940. Wafat di Bekasi, 21-10-2019. Dan beliau akhirnya dimakamkan pada 22-10-2019, kembali pulang ke desa kelahirannya.

Perhatikanlah tanggal lahir, wafat, dan dimakamkannya beliau. Bukankah itu suatu ketetapan Illahi yang istimewa? 
Saya merinding sendiri bila mengingat malam wafatnya ayahanda. Bukan saja karena banyaknya misteri Illahi yang disingkapkan kepada saya, melainkan juga diinaugurasinya saya ke posisi hikmah yang baru.

Oleh karena itu, mohon izin kepada teman-teman di F.B. ini, saya hendak menuliskan mengenai pelajaran kehidupan yang saya dapatkan dari wafatnya ayahanda saya tersebut. Tulisan ini akan dibuat berseri. Dan berakhir pada hari-hari awal tahun 2020. Insya Allah sekaligus juga sebagai tulisan terakhir saya yang diunggah di account F.B. ini.

Semoga Allah meridhoi. 

Aamiin ya Rabbalalamiin.

[Tulisan ini semula diunggah sebagai status di account FaceBook (F.B.) utama penulis pada tanggal yang sama.]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s