Megalomania

Megalomania dalam istilah psikologi sering disebut “delusions of grandeur”, Grandiose Delusions (GD) atau “grandiosity”. Bila dialihbahasakan menjadi “waham kebesaran”. Ini adalah penyakit kejiwaan atau mental dimana penderitanya merasa superior. Ia memposisikan dirinya di atas kebanyakan -atau malah semua- orang lain. Biasanya, penderita menganggap dirinya semacam dewa, raja, atau orang pilihan tuhan dengan berbagai istilahnya. Dan yang harus digarisbawahi, faktanya dia tidak seperti itu.

Seperti halnya semua penyakit mental atau kejiwaan lainnya, penderita umumnya tidak menyadari, tidak mengakui, bahkan menyangkal. Kesadaran baru timbul apabila ia sendiri merasakan adanya gangguan. Barulah ia mencari pertolongan, pengobatan, atau mencoba menyembuhkan diri sendiri. Beda dengan penyakit fisik dimana penderitanya yang merasakan sakit, penyakit psikis justru yang pertama kali terdampak adalah orang terdekat di sekitarnya. Penderitanya justru seringkali tidak merasakannya. 

Di kehidupan nyata, megalomania makin mudah dikenali apabila “jurang” antara fakta realitas nyata dengan dunia khayalan si penderita makin jauh. Misalnya saja ada orang yang mengaku ditunjuk tuhan sebagai “ratu adil” atau semacamnya, tapi dalam kehidupan sehari-hari dia berprofesi “kerah biru” berpenghasilan rendah. 

Apabila penderitanya ternyata kaya (apalagi ditambah “raya”), berkuasa, punya jabatan tinggi dan juga tinggi status sosialnya, megalomania kerap tersamar. Itu karena ia mampu menutupinya dengan mewujudkan dunia khayalnya. 

Saya pernah bertemu seseorang yang ke mana-mana memakai tiga bintang di pundaknya. Ia memang purnawirawan jenderal, tapi “hanya” bintang satu. Ternyata, ia mengaku dinaikkan pangkatnya oleh Bung Karno -yang sudah wafat- di dalam mimpinya. Penampilan megalomania itu tertutupi karena faktanya ia memang pernah jadi jenderal dan kaya.

Di banyak kesempatan lain, saya beberapa kali bertemu orang yang hampir setiap hari memakai setelan jas ala Bung Karno. Putih-putih lengkap dengan pecinya. Tapi, ke mana-mana ia naik angkutan umum atau motor butut. Mudah sekali dikenali bahwa dia cuma berkhayal jadi sebesar sang Proklamator.

Nah, yang perlu diwaspadai, megalomania adalah tahap lebih lanjut dari Narcissistic Personality Disorder (NPD). Kita kerap menyebutnya singkat saja dengan: “narsis”.

Jadi hati-hati, mengagumi diri sendiri secara berlebihan (ujub dalam istilah Islam), adalah pintu masuk ke penyakit mental atau kejiwaan lebih berat. Dan media sosial adalah sarana yang sangat memungkinkan untuk mengelaborasinya.

Ilustrasi: 

– featured image: deviantart

– article header: idntimes

[Tulisan ini pertama kali diunggah sebagai status FaceBook di account utama penulis pada tanggal yang sama.].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s