Koruptor Pamit Pensiun

Sabtu (21/10) kemarin saya menyaksikan pementasan “Indonesia Kita” edisi ke-26. Ini adalah pementasan teater yang diprakarsai oleh Butet Kartaredjasa. Sponsor utamanya sebuah perusahaan rokok ternama, didukung sejumlah sponsor lainnya. Judulnya cukup menarik, yaitu “Koruptor Pamit Pensiun”. 

Bagi saya yang beberapa kali menyaksikan Butet dan timnya tampil di atas panggung, tentu mengharapkan sesuatu yang lebih. Dan harapan itu sempat membuncah saat pentas diawali ” ngremo”, satu sajian khas yang biasa mengawali seni tradisional “ludruk” asal Jawa Timur. Apalagi dibawakan oleh Cak Kartolo, seniman senior yang ternama di bidangnya.

Jalinan cerita di bagian awal cukup mengundang minat penonton. Masuk ke bagian tengah setelah pementasan berjalan sekitar 1 hingga 1,5 jam -dari total sekitar 3 jam- dramaturginya mulai membuat dahi berkerenyit. Terutama bagi yang tak menguasai bahasa Jawa. Sebabnya jelas, dialog para pemain menggunakan “coro Jowo” !

Memang para pemain dan kru panggung sebagaian besar berasal dari suku bangsa mayoritas di Indonesia itu. Tampaknya sebagian besar penonton juga, termasuk saya. Akan tetapi bagi saya agak kurang bagus di tengah semangat persatuan bangsa malah menggunakan bahasa daerah dan bukan bahasa nasional. 

Apalagi judul dan keseluruhan tema rangkaian pentas teater tersebut mengusung kritik sosial dan kepedulian pada kondisi negara. Agak paradoks rasanya.

Jalan cerita juga agak “mbingungi” (bahasa Jawa: membingungkan) menjelang akhir. Alih-alih penyelesaian terburu-buru yang lebih umum terjadi dalam pementasan semacam, kali ini justru terkesan mengulur waktu. Penulis cerita dan sutradara Agus Noor seolah “kehabisan ide” untuk mengisi kekosongan durasi. 

Dan ia pun menyelipkan adegan “ajaib” di sela jalinan cerita yang sudah terbangun. Itu adalah adegan “pertukaran jiwa dan tubuh” antara Butet dengan Kartolo. Ini jelas terinspirasi dari kisah semacam dalam film “Freaky Friday” (2003) atau “13 Going On 30” (2004).

Ironisnya, di 2 scene terakhir setelahnya, malah jadi tidak jelas jiwa siapa di tubuh yang mana. Pertanyaan besarnya: Kenapa yang ditangkap tetap tubuh Kartolo bila yang dicari Butet? Bukankah aparat penegak hukum hanya bisa melihat fisik kasat mata? Seharusnya yang ditangkap adalah tubuh Butet, dimana di dalamnya bersemayam jiwa Kartolo.

Lagipula, logika cerita jadi membingungkan. Kenapa Kartolo malah divonis bebas oleh hakim padahal semua kesaksian termasuk dari keluarganya sendiri memberatkan? Dan anehnya dia yang sudah tahu disuruh Butet agar dijebak, malah kembali menemui Butet usai bebas. Akibatnya ia malah dipaksa menjalani prosedur medis “pertukaran jiwa dan tubuh” tadi.

Dan semua rekayasa sepanjang cerita jadi “mentah” kembali di akhir cerita dengan pidato sang koruptor: Butet. Ia yang semula hendak pensiun dan minta ditangkap malah membatalkan niatnya itu.

Ah, entahlah. Namanya juga cuma cerita. 

Di samping semua itu, penampilan penari yang energik dengan musik menghentak dari “Kuaetnika” arahan Djaduk Ferianto adik kandung Butet Kartaredjasa terasa rancak. Setidaknya mampu membangunkan kembali mata yang sudah sempat terkantuk-kantuk.

Tapi tentu saja bagi penonton pria seperti saya, yang bisa “membangunkan” adalah “pemandangan indah” dari beberapa penampil perempuan. Di antaranya ada artis Sha Ine Febriyanti yang ikut bermain sebagai putri Butet. Tapi bagi saya yang paling “suegerrr” adalah penampilan Sruti Respati. Dia yang aslinya penyinden itu tak hanya bermain sebagai anak Sapari yang juga keponakan Kartolo, tapi juga dua kali tampil menyanyi solo. Memukau!

Penampilan Butet tentu saja tak boleh diragukan. Walau bagi yang sudah sering menyaksikannya termasuk di layar televisi, kemampuannya tak ada perkembangan dari tahun ke tahun. Stagnan.

Justru tampilnya Cak Lontong yang mampu “mencuri panggung”. Ia yang kini lebih dikenal sebagai ” pelawak tunggal” (standup comedian), asalnya justru sebagai pemain ludruk. Tak heran ia mampu menyatu dengan pemain lain sesama penampil ludruk, termasuk Cak Kartolo dan Gareng Rakasiwi.

Tentu saja para penampil teater yang sudah berpengalaman ini berhasil menyajikan pertunjukan yang tampak prima bagi penonton awam. Dan saya rasa sebagian besar penonton pulang dengan puas. Terutama karena sudah bisa tertawa lepas, mentertawakan keadaan, situasi dan kondisi di pentas nasional. 

Foto: A.G. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s