Zaman Kegelapan di Jakarta

 

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berpose foto dengan gaya yang tak lazim (Foto: tempo.co)

Tak dapat dipungkiri aura kekecewaan, kesedihan dan kegeraman masih menghinggapi para pendukung pasangan petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias “Ahok”-Djarot Saiful Hidayat. Di linimasa media sosial terutama Facebook, tergambar jelas bahwa “move on” bukan masalahnya. Tetapi karena terbukti bahwa kemenangan lawan mereka Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno diraih dengan “segala cara”. Cara paling disesalkan adalah eksploitasi isyu agama yang memecah persatuan dan kesatuan Indonesia. Media massa luar negeri pun sampai mengulasnya berkali-kali karena begitu massifnya serangan kepada pasangan petahana menggunakan metode fasis dan rasis. Kita akan mencatatnya sebagai Pilkada paling kotor yang pernah terjadi di Indonesia. Kotor karena penggunaan isyu yang bisa membahayakan negara cuma demi meraih kursi kekuasaan.

Bagaimana pun, nasi sudah jadi bubur. Terbukti harapan untuk maju masih sangat jauh. Tingkat kepuasan kinerja yang tinggi ternyata tidak diapresiasi menjadi elektabilitas. Masyarakat lebih memilih mengikuti ambisi politik segelintir politisi yang melakukan pembodohan. Luar biasa memang.

Belum apa-apa, kita sudah disuguhi parade keinginan “balik modal” dari Gubernur-Wakil Gubernur terpilih dan timnya. Kita sama-sama tahu kalau program “OK-Oce” yang gencar dikampanyekan Sandi Uno ternyata diklaim sebagai milik yayasan keluarganya. Karena itu dianggap wajar bila kakak dan ibunya pun dilibatkan. Juga pernyataan Ketua Tim Transisi Sudirman Said yang menyarankan setelah menjabat Gubernur-Wagub baru DKI Jakarta menghabiskan anggaran tersisa di 2017 dengan membelanjakan 420 miliar rupiah sehari. Belum lagi pengingkaran janji kampanye seperti DP 0 % bagi rakyat yang sudah dinyatakan tak mungkin dilaksanakan segera. Dan yang paling parah adalah janji menghentikan reklamasi yang mustahil karena itu proyek negara yang kewenangannya di tangan Presiden. Bila hal itu dilakukan, maka Gubernur DKI Jakarta bisa dikategorikan makar kepada Presiden Republik Indonesia yang sah.

Ahok yang menetapkan standar sangat tinggi bagi kinerja seorang pemimpin daerah begitu sulit disaingi. Apalagi jelas ia dikalahkan dengan cara yang sangat tidak etis oleh sekelompok elitis yang memanfaatkan isyu populis. Kekalahan Ahok bisa disetarakan dengan kekalahan Hillary Clinton dalam Pemilu Presiden A.S. tahun 2016 lalu. Kekalahan pihak yang dipandang lebih pro-demokrasi, anti-korupsi, toleran, berpandangan maju, berpihak pada rakyat dan mengutamakan kepentingan negara di atas kelompoknya. Ini hari pertama dari “zaman kegelapan” di Jakarta untuk lima tahun ke depan. Semoga Tuhan mengampuni dosa kita.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s