Orang Aneh

Saya sedang amat marah saat menuliskan ini. Namun, perhatikan diksi tulisan tidak ada yang memaki dan kasar. Bahkan penyebab kemarahan ini pun saya coba konfirmasikan ke beberapa ahli. Dan mereka semua sependapat dengan saya.

Oh, tetapi bagi subyek penyebab kemarahan saya ini, semua fakta itu tak penting. Tak ada ahli yang lebih hebat daripada dirinya. Kalau saya sebut jurusan kuliahnya, nanti malah melebar ke mana-mana. Ada orang yang juga pernah kuliah di sana bisa ikut tersinggung. Tapi intinya, dia tidak punya kompetensi berpendapat begitu. Sementara saya punya. Dan kalau pun masih kurang, ada kolega saya yang malah punya kompetensi lebih baik.

Yah. Bahkan “orang normal” yang tak punya kompetensi pun berpendapat serupa. Komentar subyek sumber kemarahan justru makin menegaskan “keanehannya”.

Saudara, “aneh” itu tak apa. Selama tak mengganggu orang lain. Kalau mengganggu, orang lain bukan saja berhak protes, tapi juga bisa memperkarakan secara hukum.

Saya “orang aneh” saudara. Bedanya, saya tahu saya “aneh”. Bukankah Aristoteles pernah berkata, “orang paling bodoh adalah yang tak tahu dirinya bodoh”. Dan itu masih bisa ditambahi, “sudah begitu masih sok pintar.” Frasa kata “bodoh” bisa diganti “aneh” dan “pintar” diganti “normal”.

Dalam pergaulan sehari-hari, saya cukup sering bertemu “orang aneh”. Sebutlah misalnya ada yang merasa dirinya “orang suci yang mendapat wahyu tuhan”. Atau sekedar tak mau bilang “iya Mas, gpp”, saat saya dengan berbesar hati meminta maaf atas salah yang tak seberapa.

Apakah saya tegur atau ingatkan? Tidak.

Saya ambil langkah: tinggalkan dan/atau biarkan. Karena mengingatkannya cuma menghabiskan energi dan emosi. Dia tak akan terima, saya pun jadi jengkel.

Saya jujur tak suka dengan ajaran “nir-emosi” dari beberapa orang berprofesi tertentu. Itu tidak sehat secara psikis. Kalau mau begitu, tinggallah di biara di atas gunung yang sepi. Di tengah masyarakat, kita manusia biasa pasti emosi, cuma perlu dikendalikan. Ingat lho, senang dan sedih itu juga emosi. Bukan cuma marah saja.

Perlu diingat, menjadi “orang aneh” bukanlah aib. Karena banyak di antara gejalanya adalah di luar kemauan kita atau malah bawaan genetika. Tetapi berusaha tetap “tampak normal” di tengah masyarakat itulah yang harus diusahakan. Terutama bagi “inner circle” kita. Merekalah keluarga inti yang seharusnya saling mencintai apa adanya. Se-“aneh” apa pun dia.

(Untuk SWR, “orang paling aneh” yang pernah kubiarkan menerobos “pagar pertahanan”-ku. Dan aku teramat sangat menyesalinya.)

 

 

[Tulisan ini pertama kali diunggah sebagai status di account FaceBook utama penulis pada tanggal 10 Juli 2017.]

 

Catatan: Foto hanya sebagai ilustrasi belaka. 

Sumber foto: aliexpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s