Menyakiti Balik – Tere Liye

*Menyakiti Balik
Oleh : Tere Liye​

Anggap saja ini cerita fiksi. Jadi tidak perlu terlalu serius membacanya. Selow saja 🙂

Kita sebut saja Mas Bayu (namanya kita lokal-kan, biar akrab). Dia ini liberal sejati. Terserah orang mau ngapain saja. Dia juga pendukung hak asasi sejati, bahwa semua orang berhak melakukan apapun. Maka, jangan tanya ke dia soal peredaran minuman beralkohol, dia justeru mendukung minuman itu dijual bebas dimanapun. “Saya nggak minum. Setetes pun tidak. Tapi orang lain berhak dong kalau mau minum. Situ kan sudah pada besar, kalau nggak mau beli, ngapain minum? Ngapain tergoda? Katanya punya agama. Sy mendukung minuman alkohol dijual bebas.”

Singkat cerita, 10 tahun berlalu, Mas Bayu telah menjadi aktivis hak asasi, aktivis pro kebebasan. Dia aktif sekali menulis status, tweet tentang hal ini. Dia benci sekali siapapun yg sok suci mau melarang atau membatasi peredaran minuman keras. Dia akan counter attack di media sosialnya yg punya ratusan ribu follower, berteriak bilang dasar munafik kepada orang itu, lantas followernya akan berpesta, membully si orang2 sok suci ini. 

Tapi ada yg berbeda setelah 10 tahun itu, Mas Bayu sudah punya anak usia 7 tahun. Putri semata wayang yg sangat dia sayang. Nah, inilah bagian yg menyedihkan dari kisah ini. Pada suatu hari, saat putrinya pulang dari sekolah (tidak jauh dr rumah, hanya 200 meter, melewati pasar kecil, jadi bisa jalan kaki tanpa perlu diantar jemput), si Putri melewati salah-satu gang pasar yg sering anak muda nongkrong mabuk2an di sana. Hari itu, pecah keributan di sana, namanya orang mabuk, hal sepele bisa serius, mereka bertengkar. Satu botol kosong dilempar ke jalanan, menghantam kepala si Putri. Tubuh kecil itu seketika terkapar di jalan. Orang2 menjerit, beberapa mencoba menyelamatkan si Putri, dibawa ke RS terdekat. Malang tak dapat ditolak, si Putri meninggal.

Mas Bayu, hari itu, menyaksikan sendiri anak semata wayangnya meninggal karena keributan yg dipicu oleh alkohol.
Apa pendapatnya sekarang? Apa yang akan dia teriakkan sekarang ttg peredaran minuman beralkohol? Dia hanya bisa memeluk tubuh kaku anaknya di ruang mayat RS. Yang terlihat cantik, tidak berdosa, menjadi korban. Bukan korban anak muda yg bertengkar, tapi korban peredaran minuman keras secara bebas–yg justeru dia dukung habis2an selama ini.

Dalam hidup ini, adik2 sekalian, kehidupan tersambung satu sama lain seperti jaring-jaring raksasa. Kehidupan A mempengaruhi kehidupan B, kemudian si C, si D, dan seterusnya. Lantas apa yang membuat jaring2 itu tetap stabil, tidak kusut? Atau malah jadi robek? Yaitu: kita saling peduli satu sama lain. Kita saling menasehati dalam kebaikan, dan saling membahu mencegah kerusakan. 

Mas Bayu, dia berhak memang untuk mendukung peredaran minuman alkohol secara bebas, atas nama hak asasi, atas nama hidup modern, demokrasi, dsbgnya, dia punya logikanya, dan itu kadang masuk akal. Tapi ketahuilah, itu justeru memulai kerusakan di jaring-jaring kehidupan kita. Jaringnya menipis di sana-sini, jaringnya putus di sana-sini, dan hanya karena jaring kehidupan milik kita masih baik2 saja, bukan berarti besok lusa tetap baik. Hanya soal waktu seluruh jaring-jaring kehidupan rontok binasa–dan saat rontok, proses itu tidak peduli apakah situ pendukung peredaran minuman alkohol atau tidak. Semua kena.

Di dunia ini, hal menyakitkan bukan saat kita berdiri tegak menyampaikan kebenaran–lantas orang2 mem-bully kita. Di dunia ini, hal yg menyakitkan adalah, saat kita merasa sudah membela sebuah “kebenaran”, habis2an, gila2an, lantas besok lusa, justru “kebenaran” itu sendiri yg mengkhianati kita. Menikam balik, menyakiti hidup kita. 

Semoga ada yg bersedia memikirkannya, lantas mengambil bagian berdiri kokoh, meski tinggal sendirian saja, terus saling menasehati satu sama lain.

*Tere Liye

Catatan: Tulisan ini dimuat di laman penggemar (fanspage) Facebook resmi Tere Liye pada 5 September 2016 jam 19:00 WIB. Dan saya klarifikasi 45 menit kemudian di status account FB utama saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s