Agama dalam Kehidupan

Sebagai orang yang menganggap agama penting dalam kehidupan, saya merasa tidak terlalu religius. Kenapa? Selain karena pengaruh lingkungan, sikon & norma keluarga, saya juga tidak selalu memperingati hari besar agama semestinya. Namun, setidaknya saya berusaha selalu menyertakan Tuhan dalam setiap langkah hidup. Ini karena saya tahu pentingnya “dengan nama Tuhan”. Seakan sependapat dengan saya, Mario Teguh dalam program “Mario Teguh Golden Ways” di Metro TV malam ini juga mengutarakan hal serupa. Tema yang diangkatnya berjudul “Bismillah”, mengutarakan hal mirip dengan tulisan saya itu.

Tentu saya tidak ge-er beliau atau timnya membaca blog ini. Itu cuma menunjukkan bahwa sebuah ide serupa bisa muncul bersamaan di benak lebih dari satu orang. Dan kalau memang jujur, tentu tidak ada plagiasi di sini. Lagipula eksekusi dan implementasi ide bisa berbeda.

Kembali ke topik, bagi saya, masyarakat kita itu cenderung munafik. Karena agama terlihat agung, dan beragama itu terhormat, maka banyak orang melakukannya karena pencitraan. Bisa jadi, saya juga sering begitu.

Misalnya, dalam setiap sambutan kita melantunkan salam khas agama. Tapi apakah itu kemudian menunjukkan tingkat religiusitas orang itu? Tentu tidak. Pandji Pragiwaksono pernah bercerita, ia diminta hadir di sebuah gereja untuk semacam dialog antar agama. Saat ia  memberikan salam netral -seperti “selamat siang”-, malah diminta memberi salam khas agama Islam. Apa yang membuatnya terkejut adalah umat Nasrani di gereja tersebut mampu menjawab salam dalam bahasa Arab itu dengan fasih. Dari sudut pandang Nasrani, itu adalah strategi kontekstualisasi. Sementara dari sudut pandang Islam, semangatnya adalah toleransi meski dalam soal ini cenderung lebih ketat. Nah, apakah bisa dibilang bahwa penganut Nasrani itu lebih Islami dari orang yang “Islam KTP” misalnya? Tentu tidak. Karena religiusitas hakiki itu cuma hak Tuhan untuk menilainya.

Di Indonesia, negara ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, memang seolah Tuhan disertakan dalam setiap aspek kehidupan. Tapi apakah lantas masyarakatnya jadi religius? Tidak serta-merta saya kira. Bahkan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama masih marak. Ironisnya, itu justru banyak dilakukan oleh mereka yang ‘casing’-nya beragama. Misalnya penodaan terhadap rumah ibadah atau umat beragama lain atau yang dipandang sesat. Di sini, kita musti arif meletakkan duduk persoalan. Bukan agamanya yang salah, tapi kita manusia yang mempraktekkannya yang keliru menerapkan dalam kehidupan.

Bhayu blogger Indonesia

image source: religionlink.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s