Ibadah & Niat

berdoaIbadah puasa di bulan Ramadhan terasa berat bagi yang tidak beriman, tapi ringan saja bagi yang punya niat kuat. Saya melihat contohnya dari lingkungan saya sendiri. Ada orang yang kuat puasa ala Jawa seperti “mutih” atau malah “pati geni”, tapi saat puasa Ramadhan yang sejatinya lebih ringan daripada itu, malah tidak kuat. Apa yang mendasarinya? Cuma satu: niat.

Dalam hal ini, niat “lillahi ta’ala” akan membuat segalanya lebih mudah. Seperti saya tuliskan beberapa hari lalu, bila kita memulai segala sesuatunya “dengan nama Tuhan“, niscaya kita akan mendapatkan “pemantauan” dari-Nya. Saya rasa, semua agama punya tata-cara yang serupa dengan mengucapkan “Bismillahirrahmaanirrahiim” dalam Islam.

Niat itu kemudian diperkuat dengan tekad. Tekad mengejawantah menjadi ayunan langkah yang kuat. Dan dari situlah setapak demi setapak beratnya perjalanan ibadah dilalui.

Hidup itu sendiri adalah ibadah. Bagi umat Islam, dipercaya bahwa tujuan hidup manusia semata-mata adalah untuk beribadah kepada ALLAH SWT (merujuk pada Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat ayat 56 dan QS. Al-Bayyinah ayat 5). Meskipun begitu, tentu kita tidak boleh menghabiskan 24 jam waktu kita dalam sehari hanya untuk beribadah ritual tanpa melakukan hal lain seperti mencari nafkah. Lalu bagaimana caranya? Dalam Islam, semua aktivitas kehidupan yang dimulai dengan menyebut nama Tuhan memiliki makna ibadah. Naik mobil “Bismillah”, mulai mengetik “Bismillah”, masuk kantor “Bismillah”, sehingga semua aktivitas itu bermakna ibadah dan insya ALLAH mendapatkan pahala.

Bila diniatkan dengan ikhlas, niscaya semua ibadah akan mudah. Tapi, masalahnya untuk berniat saja seringkali sulit. Di bulan Ramadhan ini saja, kita bisa melihat banyak sekali orang yang memanfaatkan anjuran agar bersedekah. Mulai dari lembaga resmi sampai pengemis jalanan. Tidak perlu peduli ke mana uang atau sedekah kita dilarikan. Begitu kita memberi, itu sudah dicatat malaikat bila niatnya ikhlas. Bila tidak ikhlas, tidak usah memberi. Percuma kan? Sudah uang hilang, pahala tak dapat. Kalau kemudian sedekah kita disalahgunakan, misalnya oleh boss para pengemis yang nyata-nyata cuma penipu, itu tanggung-jawab dia dengan Tuhan. Kita sebagai pihak yang bersedekah tetap mendapatkan pahala. Sekali lagi, bila niatnya ikhlas “lillahi ta’ala”.

Dan sedekah itu bukan cuma kepada pengemis atau fakir-miskin lho. Kita juga bisa bersedekah kepada orang kaya. Bagaimana caranya? Mudah. Mulai dari tersenyum yang sederhana hingga membantu mereka bila perlu tenaga atau keahlian kita tanpa meminta imbalan. Atau malah seperti anjuran agama Nasrani: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Karena mengasihi musuh atau orang yang menganiaya kita justru adalah sedekah terbesar. Sudah kita dijahati, tapi kita tetap baik kepada mereka. Jelas malaikat tahu siapa juaranya kan?

Bhayu blogger Indonesia

Foto: islampos.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s