Merendahkan Hati

Saya ini sombong. Dan orang sombong seperti saya sulit sekali untuk rendah hati. Biasanya, kesombongan saya terpicu justru oleh orang sombong. Saya jarang menyombongkan diri di hadapan orang biasa apalagi mereka yang rendah hati. Tapi, kalau sudah bertemu orang sombong juga, rasanya saya ingin ngepruk kepala mereka lantas bilang: “jangan sombong!” Tapi masalahnya, saya sendiri sombong. Jadi, gimana dong?

Seorang bawahan saya saat saya bekerja pernah saya tanya bagaimana pendapatnya tentang saya. Menurut dia, saya tidak sombong. Karena katanya, apa yang saya katakan memang benar-benar saya miliki. Ada dua titik perhatian di sini. Pertama, karena dia bawahan atau sub-ordinat saya, kemungkinan besar dia ABS alias Asal Bapak Senang. Kedua, orang sombong biasanya memang memiliki apa yang mereka sombongkan. Dia rancu antara kesombongan dengan kebohongan.

Sombong itu misalnya kalau saya baru beli mobil baru, saya akan dengan santainya “pamer” ke orang-orang. Bisa dengan berbagai cara, antara lain dengan memajang foto di FaceBook. Makanya, saya berusaha untuk tidak sering-sering update FB lagi. Ada beberapa alasan pribadi sebenarnya, tapi  yang paling utama adalah saya menghindari kesombongan. Karena Tuhan -alhamdulillah- sedang mempercayai saya untuk mendapatkan rezeki lebih besar dan insya Allah akan lebih besar lagi. Kalau sekedar untuk membuat YPP kaget, saya rasa tidak perlu. Saya yakin ia sudah tahu, mungkin dari beberapa sahabatnya yang membaca blog ini. Karena terakhir kali bertemu tiga bulan lalu saja dia menuntut saya untuk memenuhi hak “gono-gini”-nya. Saya menolaknya karena dia belum memenuhi sejumlah kewajibannya kepada saya. Tapi dia berkata sinis, “Kan gaji lu gede banget?” Well, saya sudah tidak bergaji lagi sekarang. Tapi benar, penghasilan saya meningkat drastis. Contohnya, bulan ini saja alhamdulillah saya mendapatkan uang yang setara dengan gaji dia setahun!

Tuh, kan, saya sombong lagi…

Di sinilah saya mencoba bercermin. Ada lebih dari satu dimensi dalam kehidupan saya. Dimana di mata orang lain mungkin saya terlihat “baik-baik saja”, tapi sebenarnya tidak. Kesombongan itu cuma salah satunya. Di komunitas Tangan Di Atas (TDA), saya berusaha merendahkan hati serendah mungkin. Kenapa? Karena seperti saya tuliskan dua pekan lalu, saya bertemu dengan “orang-orang langit”. Mereka yang penghasilan dan status sosialnya sudah wow!

Tapi, justru itulah kita. Kalau di hadapan orang yang kita rasa lebih tinggi, pasti kita tak berani sombong. Tantangannya justru bagaimana kita tetap merendahkan hati pada orang yang kita tahu posisinya lebih rendah daripada kita.

Maka, saya pun melakukan berbagai riyadhoh nyata. Bukan cuma diteriakkan di mimbar dengan pengeras suara (atau dituliskan di blog semacam ini), tapi dipraktekkan. Misalnya dengan hal yang terasa sederhana, mengobrol dengan ‘orang-orang kecil’ secara santai, menggunakan fasilitas umum tanpa minta keistimewaan (termasuk naik bus umum saat pergi ke luar kota dan bukannya pesawat), banyak-banyak pergi ke majelis ilmu dan ibadah serta tentu saja selalu mengingat bahwa kesombongan itu hanya boleh dimiliki oleh Tuhan. Semoga Tuhan berkenan menolong saya dari kesombongan dan keinginan membalas dendam pada orang yang menyakiti saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s