Kisah Nabi Isa Menghidupkan Jenazah Perempuan Cantik

Ilustrasi: Yesus membangkitkan seorang anak.

Ilustrasi: Yesus membangkitkan seorang anak.

Alkisah, ketika Nabi Isa a.s. sedang berjalan hendak berdakwah, ia melewati seorang pemuda yang menangis tersedu-sedu di sebelah sebuah makam. Nabi mulia itu pun bertanya, apa penyebabnya. Ternyata, istri sang pemuda baru saja meninggal. Mengetahui pria di hadapannya adalah Nabi, ia memohon agar Sang Nabi menghidupkan kembali jenazah istrinya. Terdorong oleh rasa iba, setelah beberapa kali menanyakan kesungguhan maksud pemuda itu, Nabi Isa pun shalat dan berdo’a, memohon kepada Allah SWT untuk menghidupkan istri pemuda itu yang memang cantik jelita. Segera do’a itu dikabulkan dan pemuda itu pun begitu gembira dan berterima kasih pada Nabiullah Isa a.s. Beliau pun melanjutkan perjalanannya meninggalkan si pemuda yang bersuka-cita menyambut hidupnya kembali istri tercintanya.

Hari demi hari berlalu. Pemuda itu setiap hari bekerja di kota dengan meninggalkan istrinya di rumah. Satu ketika, lewatlah rombongan raja. Sang raja yang masih muda dan tampan naksir istri sang pemuda yang sedang berada di halaman rumah. Ia pun mengajak wanita itu ikut bersamanya dan ternyata ia mau. Ketika sang pemuda sampai rumah di sore harinya, ia diberitahu tetangga kejadian itu. Maka, ia pun segera menyusul ke istana untuk meminta istrinya kembali. Sang raja menolak karena wanita itu mengaku tak punya suami. Dan kini wanita itu sudah menjadi istri sang raja.

Nabi Isa a.s. kemudian diminta hadir untuk menyelesaikan hal ini. Akhirnya disepakati untuk menanyakan langsung kepada sang wanita bagaimana statusnya. Namun, Nabi Isa a.s. mengingatkan, bila wanita itu berkata bohong, ia akan kembali kepada keadaan sebelumnya. Wanita itu menyanggupi karena nggak ngeh bahwa yang dimaksud “keadaan sebelumnya” adalah sebagai orang mati. Dan ternyata, wanita itu bersikeras masih single dan bahkan tidak mengakui mengenal pria yang adalah suaminya. Seketika itu juga wanita itu meninggal dunia, kembali kepada keadaan sebelumnya. Suami itu pun berkomentar, “Ah, andaikata tahu akan begini kejadiannya niscaya lebih baik aku tidak meminta dia dihidupkan kembali”. Nabi Isa a.s. yang sebenarnya sudah tahu akan “ke mana ujungnya” hanya tersenyum. Beliau berkata kepada pemuda itu, “Andaikata kau ikhlas istrimu meninggal saat itu, ia wafat sebagai istri yang setia. Tapi kini, ia justru kembali ke hadapan Tuhan sebagai istri yang khianat.”

Kisah itu memiliki hikmah mendalam, bahwasanya Tuhan tahu yang terbaik dalam keputusan-Nya. Meski mungkin terasa pahit dan tidak menyenangkan bagi manusia, kita harus sadar Tuhan Maha Tahu. Ia lebih tahu diri kita daripada kita sendiri. Karena itu, hendaknya setiap takdir berupa kejadian apa pun disikapi bijak sebagai “harus terjadi” dan bukannya malah melawan atau meminta “pembelokan takdir”. Saya pun sadar, andaikata saya memaksakan diri untuk mempertahankan hak sebagai lelaki, bisa jadi “ujungnya” akan lebih buruk daripada sekarang. Semoga saja kita semua bisa bersabar menghadapi apa yang terlihat sebagai musibah dalam hidup kita. Karena seringkali hikmahnya belum segera terlihat saat itu. Mengutip Bible (Pengkhotbah 3:11): “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s