Perihal Kematian

Tadi pagi, kita dikejutkan dengan kabar wafatnya Ustadz Jeffry Al-Buchori. Da’i kondang dan gaul ini wafat sekitar jam 02.30 WIB di kawasan Pondok Indah karena mengalami kecelakaan lalu-lintas. Motor gede Kawasaki Ninja ER-6n yang dikemudikannya oleng, menabrak trotoar lalu menghantam pohon. Sempat dilarikan ke RS Pondok Indah tapi nyawanya tak tertolong. Disemayamkan di kediamannya di kawasan Rempoa, dishalatkan ba’da shalat Jum’at di Istiqlal lantas dikebumikan di TPU Karet Bivak.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun… wafatnya pendakwah yang dikagumi banyak orang ini mengingatkan kita pada firman ALLAH SWT dalam Al-Qur’an mulia:

أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

“Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh” (surat An Nisa 4:78)

Satu-satunya hal yang pasti dalam hidup justru cuma mati. Ada pun waktu kematian, dimana dan apa yang menyebabkannya adalah misteri Ilahi. Maka, bohong belaka bila ada yang mengatakan mampu meramal kematian. Faktanya, tak ada orang yang diberi kemampuan oleh Tuhan seperti halnya kisah Resi Bisma dalam pewayangan. Karena ketinggian derajatnya, beliau hanya bisa wafat atas permintaannya sendiri. Maka ketika di Perang Mahabharata tubuhnya sudah ditembusi puluhan anak panah Arjuna pun ia tetap hidup. Ia baru wafat setelah mengumpulkan anak-cucunya dari kedua belah pihak -Pandawa dan Kurawa- lalu menyampaikan wasiatnya. Yah, namanya juga dongeng kan?

Dalam khazanah agama, Rasulullah Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang diberitahu perihal kematiannya sebelum waktunya. Malaikat Izrail a.s. sang pencabut nyawa bahkan meminta izin lebih dahulu kepada beliau saat akan mencabut nyawanya. Dalam satu hadits Qudsi yang panjang bahkan ALLAH SWT memerintahkan kepada sang el-maut agar kembali lagi ke langit bila sang Nabi menolak dicabut nyawanya. Dalam hadits lain disebutkan, bahwa kematian paling mudah adalah kematian Sang Manusia Paripurna sendiri. Itu pun rasanya seperti “sehelai kain yang dipaksakan lepas dari tersangkutnya di pohon berduri”. Jadi, pasti robek. Nyawa kita itu kainnya, dan duri itu badannya. Maka rasanya pasti sangat sakit.

Karena itulah alih-alih mendewakan seorang tokoh publik yang wafat, hendaknya kita mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Dengan tetap mendo’akan yang bersangkutan, hendaknya kita ingat pada kematian kita sendiri. Sudahkah kita mempersiapkannya dengan baik?

Bila tokoh publik cukup beruntung karena dishalatkan dan jenazahnya diantar ke kubur oleh banyak orang -dengan demikian lebih banyak yang mendo’akan-, maka siapakah dan berapa banyak yang akan mengantar jenazah kita saat kita wafat kelak? Sesungguhnya beruntunglah mereka yang tertawa saat kematiannya, di saat orang-orang yang ber-takziyah justru menangis tersedu-sedu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s