Living The Dream

Semalam, stasiun Global TV menayangkan film berjudul Goal 2: Living The Dream. Film ini mengisahkan mengenai pemain sepakbola asal Meksiko bernama Santiago Munez yang dikontrak oleh Real Madrid. Meski nama tokoh protagonist ini fiktif, namun karena ini film yang resmi bekerjasama dengan Real Madrid dan Federasi Sepakbola Spanyol (BBVA), banyak pemain sepakbola asli era itu yang tampil, terutama dari Real Madrid. Sebutlah seperti Iker Casillas, Roberto Carlos, Zinedine Zidane, Guti, Raul, Robinho, Ronaldo (asal Brazil, bukan Christiano Ronaldo) dan terutama David Beckham. Juga ada para pemain lain dari Valencia, Barcelona dan Arsenal sebagai lawan dari Madrid.

Ketika Munez dikontrak sebagai pemain el Real, sontak impiannya terwujud, terutama soal materi. Berbagai kemewahan mampu dibelinya, tidak hanya pakaian mahal tapi juga mobil dan rumah mewah. Betapa tidak, gaji pemain sepakbola klub besar itu bila dirupiahkan bisa milyaran seminggu. Padahal banyak di antara kita yang bekerja bertahun-tahun uang satu milyar saja tak pernah melihatnya.

Pekerjaan Munez tentu saja halal dan ia berhak menerimanya. Ini berbeda dengan seorang bandar narkoba di Aceh yang juga milyarder. Usianya 35 tahun -sebaya dengan saya- tapi sudah milyarder. Hanya saja berbeda dengan David Beckham yang cara mendapatkan uangnya halal (dia  juga sebaya dengan saya), cara mendapatkan uangnya haram. Itu bandar narkoba yang tertangkap polisi, sementara masih banyak yang tidak.

Punya uang banyak memang impian banyak orang. Tapi sebenarnya yang lebih penting adalah cara mendapatkannya. Buat apa menumpuk uang dan harta kalau tidak bahagia? Tapi banyak motivator bilang itu cara berpikir orang miskin. Oh ya?

Coba lihat jenderal polisi itu tersangka KPK itu. Kurang apa dia, sudah bintang dua, karirnya moncer, tapi masih kurang juga. Uang yang bukan haknya diraup dengan serakah, bahkan istrinya tiga! Padahal, andaikata dia hidup “normal” saja, saya rasa uangnya masih cukup untuk menyekolahkan semua anaknya ke luar negeri dan punya “uang pensiun” cukup. Kategori “normal” tentu tidak sekedar terima uang dari gaji saja lho, tapi intinya ya tidak serakah. Menerima hadiah, tapi bukan suap. Membantu orang yang sedang kesusahan dengan pengaruh jabatan yang dimilikinya, tapi tidak korupsi. Saya pikir untuk semua itu masih “normal” bila ada penerimaan di luar gaji kan?

Sulit hidup dalam mimpi. Tapi banyak orang melakoninya dengan senang hati. Mereka tertidur dan tak pernah bangun lagi. Saat mereka bangun, justru sudah “six feet under” alias sudah dikubur. Padahal, yang benar adalah seperti judul film tadi. Bukan hidup dalam mimpi (live in dream), tapi “menghidupkan mimpi” (living the dream). Dare you?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s