Hidup ini Indah, tapi hidup tak selalu indah

Ungkapan itu mungkin membingungkan atau ambigu. Tapi tidak. Itu mudah saja. Semudah memahami bahwa ada dunia besar yang kita diami bersama, dan dunia kecil tempat masing-masing orang bergelut. Itulah “Hidup” dengan “H” besar dan “hidup” dengan “h” kecil.

Hidup secara besar memang selalu berputar. Dan ia indah “as it is”, sebagaimana diciptakan Tuhan. Matahari selalu terbit dari timur (kecuali saat kiamat sudah dekat) siapa pun Presiden Indonesia. Angin selalu berhembus, ombak selalu bergulung, burung-burung selalu berkicau, awan selalu berarak, apa pun yang terjadi pada penghuni planet ini. Tak peduli ada pohon tumbang, binatang yang tewas terjengkang atau manusia yang menghamba pada uang, dunia tetap indah.

Tapi… dunia kecil kita tak selalu begitu. Itulah barangkali yang sulit dibedakan oleh orang kebanyakan. Sampai-sampai motivator sekelas Mario Teguh dicap cuma bicara (baca kembali tulisan saya: “Hidup Tak Semudah Bicara“).

Masalahnya, saat hidup kita mengalami masalah, seharusnya kita keluar dari tempurung. Kita cari “hidup” yang lain. Buatlah hidup lebih hidup. Tapi kebanyakan orang malah sebaliknya. Mereka mengurung diri hingga sinar “hidup”-nya redup, bahkan bisa jadi padam. Hidup yang indah di dunia besar mereka kurung dan kecilkan menjadi hidup yang tidak indah di dunia kecil.

Mencari “hidup yang lain” bukanlah lari dari masalah. Itu hanyalah cara agar kita mampu melihat hidup dari perspektif lain. Seringkali, masalah yang dihadapi dalam hidup kita dapat selesai saat kita “keluar”. Dengan menjadi “penonton” kita mendapatkan “bird eye” yang seringkali lebih jelas daripada saat kita berada di dalam lapangan sebagai “pemain” dalam hidup kita sendiri.

Hari ini, saya mendapati satu contoh konkret. Kebetulan saya ada rapat di sebuah kantor khusus. Ini untuk urusan non-bisnis. Saya melihat OB di kantor itu begitu pengeluh dan pemarah. Kebetulan usianya sudah tua. Saya tidak tahu apa masalah hidupnya, tapi saya pikir ia kurang mampu melihat perspektif hidup secara luas. Ia bekerja di sebuah kantor yang lumayan bagus, berada di lantai tertinggi sebuah gedung perkantoran, tapi kok seperti tidak menikmati keindahan yang dapat dilihat dari tempat kerjanya. Saya saja yang “nebeng ngantor” di kantor itu -termasuk untuk menulis posting ini- merasa nyaman melihat Jakarta “di bawah saya”. Terlihat jelas jalan Sudirman yang macet menjelang Semanggi, dan saya memantau dari ketinggian “bird eye” dari lantai 30.

Itulah yang saya bilang. Kalau kita mampu melihat dari sudut “bird eye”, bisa jadi berbagai masalah hidup kita terlihat lebih gamblang penyelesaiannya. Jakarta yang terasa macet dan menyesakkan saat kita berada di jalanan, ternyata terasa berbeda dilihat dari atas. Nah, ini juga satu bias berada di ketinggian. Namanya “menara gading”. Bila kita terlalu lama “terbang”, biasanya tak bisa “mengalami” pengalaman di darat. Penyakitnya namanya “lupa daratan”.

Jadi, kita hidup harus seimbang. Sewaktu-waktu melata di darat, kali lain terbang di angkasa. Mampulah melihat dari berbagai perspektif, bahkan untuk masalah hidup kita sendiri yang tak selalu indah. Percayalah, Hidup (dengan “H” besar) di Dunia Besar selalu indah. Dan kita berhak menikmatinya!

2 responses to “Hidup ini Indah, tapi hidup tak selalu indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s