Sempat, Bisa, Mau & Skala Prioritas

Seorang teman blogger mengabarkan sudah menerima kiriman buku dari saya. Katanya, “kalau sempat akan saya resensi”. Saya agak kecewa, karena terus terang di pesan sebelumnya ia menjanjikan akan meresensi (artinya lebih dekat ke pasti). Tapi saya harus bisa maklum, bahwa kata “kalau sempat” menunjukkan bahwa skala prioritasnya bukanlah itu. Ada setumpuk skala prioritas lain dalam hidupnya dari ‘sekedar’ meresensi buku dimana saya bertindak sebagai editornya.

Demikian juga kalimat penolakan “wah, saya tidak bisa datang”. Sebenarnya belum tentu begitu. Kata “tidak bisa” menunjukkan lagi-lagi skala prioritas kedatangannya ke suatu tempat atau acara tidaklah setinggi acara lain. Terkadang saya heran ada teman yang tidak bisa datang rapat karena “mengantar ibu” misalnya. Kalau masih SMA sih tidak apa, tapi kalau sudah bekerja kan terdengar tidak profesional?

Sebenarnya, semua itu terpulang pada satu kata: “mau”. Bukankah ada pepatah: “di mana ada kemauan di situ ada jalan”? Kenyataannya kehendak hati itulah yang mendominasi. Coba deh, kalau Anda hendak bertemu pujaan hati (atau malah seseorang yang menentukan hidup Anda seperti boss atau klien), pasti hambatan apa pun akan coba diterobos. Biarpun hujan badai, biarpun jalanan macet karena demo, diusahakan akan tetap dijalani upaya bertemu orang tersebut. Minimal, kita mau berusaha dulu walau mungkin akhirnya tetap gagal bertemu karena sebab-sebab di luar kemampuan kendali kita itu.

Saya sedang mengalami hal itu. Permintaan yang dulu begitu mudahnya (karena memang mudah) kini menjadi amat sulitnya. Kalau ingat lagu anak-anak “Ambilkan Bulan” karya A.T. Mahmud, di situ diceritakan seorang anak meminta ibunya agar mengambilkan bulan untuk menerangi tidurnya. Karena cintanya, tentu sang ibu akan bersedia mengambilkan bulan bagi anaknya. Tentu itu hanya kiasan. Artinya, sepanjang mampu, dia pasti mau. Sebaliknya, kalau tidak mau, maka walau bisa, sempat dan mampu, tetapi tidak dilakukan kan?

Kemauan untuk melakukan sesuatu dalam hidup kita, sangat tergantung pada skala prioritas. Seberapa penting “sesuatu” itu bagi kita, tentu akan makin membuat kita mau menyempatkan diri, seraya mengatakan bisa dan mampu untuk melakukannya. Apalagi kalau itu “sesuatu banget” seperti kata Syahrini 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s