Dan Kematian Makin Akrab

Itulah judul puisi karya Subagio Sastrowardoyo yang juga dijadikan judul buku kumpulan puisinya yang terbit tahun 1995. Saya sendiri tak memiliki buku itu, namun pernah mendengar puisinya sewaktu berkuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sewaktu saya lulus menjadi Fakultas Ilmu Budaya). Kini, dengan teknologi mesin pencari, mudah mendapatkan ulang keseluruhan larik puisi itu. Dan di hari ini, saya memilih tidak berpanjang kata menulis artikel. Saya memilih mengutipkan puisi itu di sini. Semata karena itulah kondisi yang sekarang saya hadapi. Semoga Tuhan memberikan saya kekuatan untuk menghadapi kematian, yang makin akrab saja bagi saya….

Di muka pintu masih bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali
Memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak mengerti
—mengapa ia tinggal diam waktu berpisah.
Bahkan tak ada kesan kesedihan
pada muka dan mata itu, yang terus memandang,
seakan mau bilang dengan bangga:
—Matiku muda—Ada baiknya mati muda
dan mengikut mereka yang gugur sebelum waktu
Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit tua,
melainkan dia yang berdiri menentang angin di atas bukit
atau dekap pantai di mana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam di gigir gunung
atau di taman-taman di kota
tempat anak-anak main layang-layang.
Di jam larut daun ketapang makin lebat
berguguran diluar rencana
Dan kematian jadi akrab, seakan kawan berkelakar
yang mengajak tertawa
—itu bahasa semesta yang dimengerti
Berhadapan muka, seperti lewat kaca bening
Masih dikenal raut muka,
bahkan kelihatan bekas luka dekat kening
Ia menggapai tangan di jari melekat cincin.
—Lihat, tak ada batas antara kita.
Aku masih terikat kepada dunia karena janjikarena kenangan
Kematian hanya selaput gagasanyang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam perpisahan,
semua pulih, juga angan-angandan selera keisengan
—Di ujung musim dinding batas
bertumbangan dan kematian makin akrab.
Sekali waktu bocah cilik tak lagi sedih
karena layang-layangnya robek atau hilang
—Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri dengan sayap ke langit—

Puisi dikutip dari forgottensupernova.tumblr.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s