Berpikir & Bertindak Positif

Saat ini Tuhan memberi ujian yang berat bagi saya. Bagi saya, skalanya lebih berat dari ujian serupa yang menimpa saya tahun 2005. Bahkan ujian yang menimpa keluarga kami pada 2003-2005. Kenapa? Karena kali ini, ujiannya sampai mengancam nyawa saya. Dan lebih menyedihkan, yang tega melakukannya adalah orang yang pernah begitu dekat dengan saya. Baik saya maupun dia saling berhutang budi di masa lalu. Namun karena hasutan orang ketiga -yang mungkin lebih dari satu- yang tidak bertanggung-jawab, yang bersangkutan rela mempertaruhkan segalanya.

Namun ada yang sangat positif dari kejadian ini. Saya mendapatkan kesempatan mempraktekkan segala pengetahuan dan ilmu yang saya pernah peroleh terutama tentang “berpikir positif” dan motivasional. Ada yang lebih penting lagi, saya berusaha bertindak positif. Bahkan, saya mencoba tidak berdo’a pada Tuhan. Kenapa? Karena saya termasuk tipe orang yang merasa dekat pada Tuhan. Posisi saya saat ini juga sebagai orang yang teraniaya. Dalam agama Islam, do’a orang teraniaya sangat makbul. Do’a saya di tahun 2005 hampir semuanya alhamdulillah dikabulkan Tuhan. Saya merasa Tuhan sudah memenangkan saya atas orang yang menganiaya saya di tahun itu.

Kali ini, saya pun berkeyakinan serupa. Bedanya, saya kali ini tidak cuma diam dan berdo’a. Saya bertindak positif. Khusus untuk menghadapi ancaman premanisme, saya pun bertindak ofensif dengan menyerang balik. Ini untuk menunjukkan bahwa saya selain tidak takut, juga tidak terintimidasi dan bertekad menang.

Efeknya jelas. Kemarin, saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar yang menakjubkan dari pagi hingga sore . Banyak yang saya dapat dari seminar itu (ulasannya akan saya tulis esok hari, insya Allah). Satu yang jelas, saya bertemu dengan banyak orang baik yang juga berpikiran positif. Sangat menyenangkan.

Ini jelas beda dengan pribadi-pribadi yang ada di sebuah situs jurnalisme warga. Komentar -dan kemudian tulisan saya- di situs itu diserang secara konyol. Mereka memaksakan pendapat menurut versinya sendiri. Padahal, mereka sangat gemar mengkritik orang lain. Tapi, sama sekali tidak mau dikritik. Pribadi macam apa yang mampu berbuat begitu? Cuma satu jawabannya: pribadi picik yang kerdil dan berpikiran negatif.

Cuma saya langsung teringat pada pepatah lama yang saya modifikasi sedikit: “Kalau mau wangi, bergaullah dengan mereka yang juga wangi” (aslinya “tukang minyak wangi”, tapi pikir saya, “tukang minyak wangi” belum tentu wangi kan?). Ini sama dengan nasehat Wali Songo dalam lagu “Tombo Ati”: “Wong kang soleh konconono” (orang yang saleh temanilah). Maka, saya pun segera mengintensifikan relasi dengan “orang-orang baik”. Seraya di saat bersamaan “nyuekin” orang-orang jahat.

Hasilnya jelas positif. Bahkan seusai seminar, saya dan Wilson Partogi langsung melanjutkan rapat. Kami menemui seorang sahabat lain yaitu Ir. Christopher Emillle Jayanata. Kami sepakat untuk mempererat kerjasama dan “do something” untuk bangsa ini. Kami tahu, meski kecil, kontribusi ini akan sangat bermanfaat. Dan tentunya pertama-tama yang mendapatkan manfaat adalah kami sendiri. Karena kami tahu bahwa kami bukan cuma “omdo” (omong doang) dan mendongakkan kepala merasa sudah “do something”. Padahal seperti kata Chairil Anwar dalam sajaknya Krawang-Bekasi: “Tapi kerja belum selesai…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s