SDSB

Wafatnya Laksamana Soedomo kemarin mengingatkan saya pada akronim SDSB. Generasi “alay” sekarang sudah pasti tidak mengenalnya. Akronim SDSB yang dinisbahkan pada Sudomo ini sebenarya adalah pelesetan. Aslinya merupakan akronim dari Sumbangan Dana Sosial Berhadiah. Bagi yang pada dekade 1990-an masih balita, apalagi yang lahir setelahnya, tentu tidak tahu bahwa ini adalah semacam “national lottery” atau undian nasional. Dalihnya adalah untuk memajukan olahraga di Indonesia. Dana yang terkumpul dari masyarakat kemudian digunakan untuk pengembangan dunia olahraga.

Apa yang menggiurkan adalah hadiah utamanya yang sebesar Rp 1 milyar! Dengan kurs dollar saat itu dipatok oleh Bank Indonesia sebesar Rp 1.700,- hingga terahir Rp 2.200,-, maka kalau sekarang mungkin setara dengan Rp 5 milyar. Itu baru hadiah utamanya, karena dengan kombinasi angka yang ada, seseorang bisa mendapatkan hadiah mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan juga rupiah. Namun, undian ini ditutup pada 1992 karena dianggap judi. Terjadi demonstrasi massa mengatasnamakan agama Islam di mana-mana. Waktu itu, di masa Orde Baru yang mengutamakan stabilitas, demonstrasi SDSB sudah terhitung besar. Bahkan setelah Malari 1974 dan GAK 1980-1982, demonstrasi anti SDSB ini adalah yang pertama mencapai Istana Merdeka.

Nah, kalau SDSB terkait Soedomo, artinya lain lagi. Kepanjangannya adalah “Soedomo Datang Semua Beres”. Ini karena Sudomo termasuk orang kepercayaan Presiden Soeharto. Orde Baru di awal masa konsolidasinya sempat membuat lembaga ekstra konstitusional bernama Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Soedomo adalah Panglimanya, disingkat Pangkopkamtib. Jabatan ini ‘mengerikan’ karena diberi hak oleh penguasa untuk “melakukan segala hal yang dianggap perlu” demi memulihkan keamanan dan ketertiban. Kemudian sebagai pelaksana lapangan juga dibentuk lembaga “Pelaksana Khusus” atau “Laksus”. Segala hal terkait masyarakat, baik itu penerbitan pers hingga pesta pernikahan harus seizin lembaga yang merupakan organ militer ini.

Nah, dengan kekuasaan yang besar ini, kedatangan Soedomo akan memastikan segala urusan beres. Kekuasaannya bahkan bisa dianggap setara dengan Panglima ABRI yang ketika itu membawahi TNI dan Polri.

Bahkan ketika lembaga “Kopkamtib” akhirnya dibubarkan, Sudomo diserahi jabatan sebagai Menko Polkam (Menteri Koordinator Politik dan Keamanan). Saya ingat, di masa itu Sudomo sampai mengurusi pemulung dan gelandangan dengan program khusus “Esok Penuh Harapan”. Sayangnya, program ini tidak langgeng dan tentu saja hilang ditelan zaman. Apalagi setelah Orde Baru runtuh, ia dilupakan. Padahal, program ini bagus untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan meningkatkan harkat hidup masyarakat bawah.

Program tersebut menunjukkan bahwa Soedomo dibiarkan oleh Soeharto untuk “berkreasi” dan merambah segala sektor yang diinginkan. Tentu dengan catatan: “ojo neko-neko” alias jangan coba-coba untuk “kudeta” atau sekedar bermimpi menjadi presiden.

Saya bukan pengagum Soedomo. Dan dalam beberapa hal termasuk dalam soal Malari, ia cenderung lebih setia pada Soeharto daripada negara. Perseteruannya dengan Jenderal Soemitro menjadi legendaris. Dan akhirnya Soeharto lebih memilih Soedomo.

Dalam konteks SDSB, tentu kita tahu bahwa tidak ada orang yang “Superman”. Zaman Soedomo dan Soeharto akhirnya berlalu. Dan andaikata mereka berdua dikembalikan pada posisi semula, belum tentu juga mampu mengatasi semua masalah. Jadi, sayangnya tidak ada cerita ada seseorang yang begitu hebatnya sampai-sampai bila ia datang semua masalah beres. Itulah kesalahan kita. Menganggap (dan menantikan) ada orang seperti itu. Bak Ratu Adil atau Messiah. Padahal, seharusnya kita bahu-membahu membereskan semua masalah bangsa ini bersama-sama bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s