Baik & Jahat

Apakah saya orang baik?

Tidak. Saya bukan orang baik. Saya malah merasa saya ini jahat. Apalagi kepada orang-orang terdekat saya. Tentu saja, saat tampil di muka publik, ‘kejahatan’ saya itu tidak akan terungkap. Masa’ iya saya tiba-tiba marah-marah saat sedang jadi pembicara? Sulit kan? Tapi akan mudah marah-marah bila orang terdekat lupa pada sesuatu janji misalnya.

Semalam, saya menangis saat menonton Oprah Show di Metro TV. Tentu saya tidak tahu itu episode ke berapa. Bahkan siapa yang tampil saja saya tidak tahu karena cuma “orang kebanyakan”. Kisahnya adalah tentang mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, karena bisa jadi ada orang lain yang tidak memilikinya.

Ada sepasang suami-istri muda yang mengalami kecelakaan saat sedang menumpang pesawat Cessna kecil. Pesawat itu sendiri hanya untuk empat orang, sehingga dua orang lain adalah pilot dan co-pilot. Pesawat itu jatuh dan mengakibatkan kedua penumpangnya mengalami kecacatan. Kalau saya tidak salah mengerti, dua orang awaknya tewas. Nah, perjuangan untuk tetap hidup itulah yang menjadi inti kisahnya. Karena setelah mengalami koma berbulan-bulan, sang istri mengalami kerusakan terutama pada wajah, tubuh dan tangannya yang terbakar. Ia tidak bisa menggenggam lagi dengan baik, juga wajahnya yang semula cantik menjadi seperti ‘monster’. Hanya dukungan keluargalah yang membuat dia bertahan. Sulitnya, mereka memiliki tiga anak yang semuanya masih kecil. Sehingga setelah sembuh, mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari adalah perjuangan tersendiri.

Sebagai pembanding, Oprah menghadirkan seorang ibu rumah tangga normal dan sehat yang seringkali merasa bosan dengan hidupnya. Ia diminta tinggal sehari dengan keluarga ibu muda “survivor” kecelakaan pesawat tadi. Dan seperti saya, ia menangis melihat kesehariannya. Bahkan untuk membuka tutup botol selai yang begitu mudah, menjadi sangat sulit dan sakit dengan tangan yang cacat.

Saya kerapkali juga begitu. Karena satu masalah hidup yang seharusnya “kecil” dan “remeh”, saya malah tidak mensyukuri berkat lain yang begitu besarnya.

Maka, saya memilih tetap melangkah. Meninggalkan semua masalah di belakang. Kalau ibu yang cacat itu bertahan hidup demi keluarganya, saya pun memilih bertahan menjalani hidup yang sulit ini justru untuk diri saya sendiri dan Tuhan. Tak peduli saya ini jahat, selama saya masih hidup saya akan berupaya mengurangi tingkat kejahatan itu. Kalau Anda pernah menonton film kartun, analoginya mungkin seperti Stitch lah… 🙂

Allahumma ana. La haula wa la quwwata ila billah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s