Business Plan

Arti harfiahnya “Rencana Bisnis”. Secara teoretis ada banyak bagian di dalamnya. Mulai dari konsep dasar bisnis, sistem produksi, pola distribusi, hingga perencanaan keuangan.

Namun, pengalaman saya sebagai usahawan plus bertemu banyak usahawan lain, justru kebanyakan mereka memulai tanpa “business plan”. Yang ada, mereka malah langsung nyemplung. Rencana dibuat belakangan atau sambil jalan. Ini beda dengan perusahaan besar dimana justru harus dibuat rencana bisnis dulu sebelum melakukan ekspansi usaha misalnya.

Bagi start-up business, usahawan sebenarnya cukup melakukan analisa SWOT (Strength-Weakness-Opportunity-Threat) sederhana. Dan setelah set-up, mulai! Karena kalau kebanyakan rencana, biasanya malah bingung sendiri. Akibatnya bisnis malah tertunda kalau tidak malah gagal berjalan sama sekali.

Ini biasanya terkait zona aman dan zona nyaman. Termasuk juga makin pintar seseorang, biasanya makin lama saat mengkalkulasi rencana. Padahal, bisnis tidak butuh pintar (atau cerdas secara intelektual yang diukur dengan IQ=Intellectual Quotient). Usahawan lebih butuh intuisi bisnis dan kemampuan interpersonal, dan terutama kecerdasan untuk beradaptasi dan bertahan dalam hidup (AQ=Adversity Quotient).

Walau begitu, kita tetap perlu “Business Plan” ini, terutama saat usaha yang dijalankan sudah berkembang. Jangan sampai begitu terkena masalah malah kebingungan. Bukankah lebih baik “sedia payung sebelum hujan”?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s