Status

Adat kebiasaan orang Indonesia senang sekali bertanya soal pribadi terkait status. Mulai dari status pernikahan, status anak, status pekerjaan, bahkan kalau perlu status kepemilikan rumah atau mobil.

Kita juga melihat, status mendapatkan pemaknaan baru sejak aplikasi social media terutama FaceBook menjamur. Malah, seolah status di FB ini lebih penting daripada status di dunia nyata. Kita tahu, pengguna FB di Indonesia terbesar nomor tiga di dunia. Demikian pula di Twitter. Maka “update status” dari orang Indonesia seringkali begitu mewarnai kehidupan kita.

Beberapa teman saya sering sekali meng-update statusnya. Ada yang berkali-kali dalam sehari. Lucunya, ada yang sama sekali tidak menanggapi comment yang dilontarkan. Seolah ia monolog saja. Tadinya, saya pun sempat beberapa kali menanggapi, namun lama-kelamaan saya capek juga. Kenapa? Karena seolah ia cuma ingin “bicara sendirian”. Ia tak butuh orang lain. Cuma butuh eksis sendirian.

Terlalu sering update status di social media sebenarnya negatif. Kita akan terkesan “kurang kerjaan”. Lebih dari itu, kita jadi terkesan “kesepian” karena di dunia nyata tak ada yang diajak berinteraksi.

Soal status di dunia nyata, bagi saya pribadi orang Indonesia yang saya temui tergolong “usil”. Mereka senang sekali menelisik soal pribadi kita. Padahal, kalau “bule” atau orang Indonesia berpendidikan barat, sering tidak peduli pada hal itu. Mereka cuma ingin mengobrol dan berinteraksi dengan kita saja. Saya bahkan seringkali sampai berpisah dengan mereka malah tidak tahu namanya.

Status ini juga terkait privasi. Bagi saya, ini penting. Apalagi kini sedikit-banyak di kalangan tertentu saya mulai ‘dianggap’ sehingga harus ‘jaga sikap’. No! “Jaga sikap” tidak sama dengan “jaga image” alias “jaim”. Ini hanya bersikap seperti semestinya sesuai norma. Misalnya, bila saya sulit menerima perlakuan teman saat bertamu (seperti tulisan kemarin), sudah pasti akan terjadi keretakan hubungan. So, kuncinya adalah toleransi.

Namun, seringnya orang lain yang tidak toleran. Misalnya status pernikahan. Kalau saya bilang “belum menikah”, maka biasanya akan ada lanjutan pertanyaan “usil” lain: “Kenapa?” atau “Kapan?” Maka, kalau sudah terganggu, saya akan mengalihkan pembicaraan. Kalau lawan bicara nggak ngeh juga, tak ada pilihan selain meninggalkan tempat.

Yang paling parah adalah kalau ada lanjutan anggapan bahwa seorang yang belum menikah dicap “belum laku” . Ini lucu sekali. Padahal, kondisinya seperti saya pernah tulis di status FB tanggal 10 April lalu:

Kenapa ya kalau status belum menikah selalu dianggap “gak laku” dan “sorangan wae”? Padahal selain saya ini “high quality jomblo”, pacar saya saat ini adalah “the most wanted girl at town”. Hahaha 😀 (ngaco bergalau ria di tengah2 kesibukan menyiapkan acara besok di @america).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s