Adat Kebiasaan Menjamu Tamu & Bertamu

Saya orang Jawa. Penduduk Indonesia mayoritas orang Jawa. Jadi biasanya ke mana pun pergi, adat-kebiasaan Jawa mudah ditemui. Salah satu yang ternyata khas Jawa adalah keramahan dalam menjamu tamu. Saya baru sadar ini saat beberapa kali berinteraksi dengan mereka yang bukan orang Jawa.

No. Saya tidak bilang bahwa etnis saya paling top. Bukan. Ini cuma masalah adat kebiasaan saja yang terkadang membuat saya terkejut. Tentu saja terkejut karena berbeda. Namun, perbedaan ini bukan negatif karena kita kan ber-“Bhinneka Tunggal Ika”?

Sebagai contoh, saya sekitar dua pekan lalu berkunjung ke kantor rekan saya di daerah Jakarta Barat. Ia memang bukan berasal dari etnis Jawa. Dan selama berkunjung, mulai datang sampai pulang, saya tidak ditawari minum sama sekali. Padahal, kami berbincang-bincang di kantin karena kantornya kecil. Bahkan saat saya memesan minum sendiri pun, ia tidak tergerak untuk membayari. Jadi, saya membayar sendiri tanpa sepotong pun kata “excuse” dari si tuan rumah. Kejadian dengan etnis tersebut bukan pertama kali. Jadi, saya berkesimpulan bahwa memang kebiasaan etnis mereka itu ya seperti itu. Padahal, saat rekan saya itu berkunjung ke kantor saya, dia saya jamu habis-habisan. Inilah tindakan yang disebut “lumrah” oleh orang Jawa.

Ada lagi kebiasaan yang lucu menurut saya. Ini bukan masalah etnis, tapi sepertinya masalah strata ekonomi. Saat saya berkunjung kepada strata agak bawah, oleh-oleh dari saya malah disajikan lagi kepada saya. Lho, buat apa saya makan atau minum bawaan sendiri? Sebaliknya, kalau berkunjung ke strata atas, jarang saya disuguhi sesuatu. Biasanya, mereka sudah punya “stok” minuman kemasan sehingga pembantunya tak perlu membuatkan minum.

Itu baru adat kebiasaan dalam soal menyuguhi makanan dan minuman. Padahal, adat kebiasaan lain dalam soal bertamu juga banyak. Misalnya ada yang menganggap bahwa bertamu di saat malam tidak sopan. Ada pula yang kalau suaminya dapat tamu, istrinya tidak boleh ikut keluar atau menemui. Ini sih biasanya tergantung kebiasaan agama.

Nah, perbedaan adat kebiasaan saat menjamu tamu ini membuat saya harus ‘waspada’. Meneliti apakah orang yang saya kunjungi punya ‘aturan’ khusus. Kalau berkunjung kepada orang yang strata atau kelas sosialnya lebih tinggi daripada kita, tentu harus membuat janji temu dulu.

Satu aturan dasar dari bertamu adalah, selalu komunikasikan dulu bahwa kita akan datang. Jangan sampai kita sudah jauh-jauh datang malah tidak bertemu. Bisa karena tujuan tidak di tempat atau malah ditolak. Berabe kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s