Talkshow Permodalan Indonesia-Young-Entrepreneurs!

Senang sekali, acara talkshow tentang permodalan yang diadakan oleh Indonesia-Young-Entrepreneurs (disingkat IYE!) kemarin berjalan sukses. Lokasi acara di @america penuh sesak oleh peserta. Bagi yang belum tahu, ini adalah Pusat Kebudayaan Amerika Serikat yang terletak di Pacific Place Jakarta Pusat. Walau tidak semua pendaftar hadir, namun angka 250 orang saya rasa terhitung banyak untuk sebuah “acara serius”.

Dalam acara yang dikaitkan dengan peringatan hari ulang tahun ketujuh IYE! itu, selain talkshow juga ada perkenalan buku antologi yang berjudul “Berjuang & Menang!: 21 Kisah Gila Perjuangan Anggota IYE! Membangun Bisnis”. Seperti judulnya, buku ini adalah kumpulan tulisan 21 orang anggota IYE! dalam berupaya mengarungi dunia bisnis. Tidak semata kisah suksesnya, tapi justru pahit-getirnya diungkapkan. Inilah yang membuat buku ini “berbeda” dan “istimewa”. Oh ya, di buku ini saya berperan ganda, selain sebagai salah satu penulis juga sebagai editor.

Mengenai talkshownya sendiri, dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama diisi pembicara Dr. Jos Luhukay, Dr. Asto Subroto, Prof. Dr. Roy Sembel, Leonardo Kamilius dan chairman IYE! Christovita Wiloto, MBA. Sedangkan di sesi kedua tampil sebagai pembicara adalah Ir. Christopher Emille Jayanata, Susantie Alie dan Roganda Manullang, MBA. Bila di sesi pertama lebih “serius”, sesi kedua lebih bersifat “berbagi” atau sharing.

Para pembicara menuturkan bahwa lembaga pembiayaan formal seperti perbankan memang sulit memberikan modal usaha kepada yang baru memulai usaha. Mereka hanya mau memberikan modal justru kepada usaha yang “pasti untung”. Ini wajar, karena tentu mereka ingin investasi berupa kredit yang diberikan dapat kembali lengkap beserta bunganya. Namun, banyak cara mendapatkan modal, selain tentunya yang tradisional seperti dari keluarga atau malah menjual barang yang ada. Salah satunya adalah mensinergikan potensi yang ada.

Potensi ini bisa berupa intelektual, jaringan, atau lainnya. Christopher Emille Jayanata memberikan contoh bagaimana ia ‘mengawinkan’ berbagai potensi yang dimiliki kenalannya. Sehingga dalam istilahnya, ia berhasil “making money without money“. Di sini, peserta bisa belajar banyak bahwa memang kita harus mampu membuka mata dan hati agar bisa melihat peluang.

Chemistry juga penting. Di sini adalah untuk melihat apakah potensi tadi bisa diubah jadi peluang riil yang menghasilkan. Baik untuk mencari partner bisnis atau pun saat akan bertransaksi dengan client atau supplier, harus diperhatikan. Di sini, intuisi bisnis harus terus diasah. Tentunya salah satunya dengan sering mengikuti acara-acara semacam ini. Makanya, bagi yang mau jadi usahawan sukses, sering-seringlah “beredar” agar tidak “ketinggalan kereta”.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s