Perbuatan Tidak Menyenangkan

Dalam KUHP ada pasal karet yaitu pasal 335, tentang perbuatan tidak menyenangkan. Apa sih definisi “tidak menyenangkan” itu? Di situlah tafsirnya kemudian menjadi sangat luas. Apabila ada seseorang yang bertindak sesuatu yang dianggap membuat “be-te” pihak lain, lantas bisa saja dituntut dengan pasal ini. Tentu saja, kaidah hukum berlaku. Ada aspek kerugian yang harus ada akibat tindakan itu. Karena kalau tidak, bakal repot jadinya bila setiap orang yang tersinggung lantas melakukan tuntutan hukum.

Saya sendiri lantas teringat betapa saya sering merasa mendapatkan perbuatan tidak menyenangkan dari orang lain. Terutama sekali dari petugas pelayanan publik seperti pelayan restoran atau tukang parkir. Namun, saya harus ingat bahwasanya saya bisa jadi lebih sering lagi melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Apalagi, seperti pernah saya bilang, saya ini termasuk kategori orang yang mudah dikesankan sombong dan “belagu”. Jarang sekali ada orang yang “jatuh cinta pada pandangan pertama” kepada saya. Biasanya, mereka baru mencair setelah saya ajak bicara. Karena kenyataannya, saya tidaklah seperti citra yang kata ibu saya terkesan “serius”.

Disadari atau tidak, perbuatan tidak menyenangkan justru paling banyak kita lakukan pada orang terdekat. Itu bisa berarti pasangan (suami/istri/pacar), anak, orangtua (ayah/ibu) atau adik/kakak. Tetangga pun bisa termasuk, juga keluarga batih lain kalau memang lokasi tinggalnya berdekatan atau malah satu atap. Sementara untuk rekan sekerja terutama bagi yang berstatus pegawai seharusnya perbuatan tidak menyenangkan adalah sebatas pekerjaan. Kalau lebih dari itu, kurang ajar namanya.

Perbuatan tidak menyenangkan kepada orang-orang terdekat itu malah bisa kita lakukan berulang-ulang tanpa kita sadari. Bahkan, karena seringnya dan dianggap sudah maklum, kata “maaf” pun tak pernah terucap. Apalagi penyesalan. Terkadang, kita baru menyadari efeknya saat orang terdekat itu kemudian berkonflik dengan kita. Konflik yang sudah parah bisa berakibat pada retak bahkan putusnya hubungan. Bagi saya, hubungan keluarga tak mungkin putus karena ada ikatan darah di sana. Namun, komunikasi bisa saja putus. Apalagi, hubungan yang bukan keluarga seperti suami-istri bisa jadi bercerai, semua karena perbuatan tidak menyenangkan.

Saya lantas teringat pada berita infotainment yang sedang heboh akhir-akhir ini. Ada seorang artis wanita senior mengadukan “teman dekat”-nya yang seorang pengacara kondang. Kata-kata yang konon diucapkan sang pengacara memang terasa “panas di kuping”. Konon sang pengacara juga melakukan “perbuatan tidak menyenangkan” lain yang bahkan termasuk kategori “penganiayaan”. Itulah kalau kita sudah memasuki ranah hukum, segalanya jadi repot.

Karena itu, marilah kita berkaca (terutama saya mengingatkan diri sendiri): “Sudahkah perbuatan kita menyenangkan bagi orang lain?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s