Self Censorship & Komentar

Dua hari lalu, saya menulis suatu artikel dengan agak “emosional” di Politikana. Entah mengapa, tiba-tiba artikel itu menghilang bahkan sebelum tayang. Ibarat bunga, ia layu sebelum berkembang. Namun seperti saya tulis di Politikana hari ini, sekarang saya malah bersyukur pada kejadian itu.

Kenapa? Karena kalau artikel itu tidak “hilang”, bisa-bisa saya sudah ditangkap polisi. Karena artikel itu sendiri memang kurang memenuhi kaidah. Saya menuding sebuah lembaga negara dengan penuh prasangka tanpa bukti. Dan itu pidana. Kalau ada yang menanyakan artikel itu tentang apa dan malah mendesak agar ditulis ulang, saya akan menjawab “sudah lupa” seperti para terdakwa di persidangan korupsi. Hehehe.

Terkadang, keinginan untuk berkomentar pada suatu masalah begitu besar. Apalagi kalau masalah itu menyinggung “dunia kecil” saya. Lagipula saya tergolong orang yang tidak mau ‘mendem’. Kalau ada perbedaan pendapat, saya cenderung langsung mengutarakan. Resikonya ya kehilangan teman. Karena di “dunia kecil” saya, jarang ditemui ada orang Indonesia yang siap berbeda pendapat.

Namun, saya kemudian menemukan ada komunitas dan golongan orang Indonesia tertentu yang “open mind”. Mereka mampu berdebat ‘gila-gilaan’ namun tanpa memendam rasa sakit hati. Karena itu saya kemudian tahu bahwa bukan masalah bagi saya untuk “berkomentar” tentang sesuatu. Tentu saja, selama data dan faktanya benar. Nah, tulisan saya di Politikana itu tidak memiliki data dan fakta mencukupi. Jadi, dari segi kelaikan tulisan untuk kategori opini politik sangat kurang. Akibatnya, bila ada yang tersinggung bisa melakukan langkah hukum.

Komentar ini tidak cuma dalam konteks pesan singkat seperti “comment” yang biasanya ada di bawah tulisan, baik di situs ataupun blog. Komentar juga bisa berupa ucapan atau tulisan panjang. Dan di sinilah saya harus berkali-kali meredam diri. Karena bahkan meski data dan faktanya benar, ternyata kalau menyinggung pihak lain ya tetap tidak diterima juga.

Ini karena sifat dasar manusia yang tidak mau disalahkan dan cenderung mau menang sendiri. Itu wajar. Karena bila bukan diri kita yang diperjuangkan dalam hidup lebih dulu, siapa lagi? Bahkan dalam prosedur keselamatan penerbangan saat terjadi kecelakaan pun dianjurkan agar menyelamatkan diri sendiri dulu. Seorang ibu yang membawa bayi pun dianjurkan hal yang sama. Logikanya sederhana, kalau sang ibu selamat, ia bisa menyelamatkan bayinya kemudian. Tapi kalau sang ibu tidak selamat dan sang bayi selamat (karena dilindungi sang ibu), ia tidak akan bertahan hidup lama karena tidak ada yang akan mendukung kehidupannya. Tentu akan bagus kalau bisa selamat dua-duanya.

Demikian pula halnya dengan komentar terkait “self censorship“. Saya harus memprioritaskan keselamatan diri saya, baru keselamatan si komentar itu. Maka, bila ia terhapus -sengaja atau tidak sengaja- (artinya si komentar tidak selamat), malah saya harus syukuri. Apalagi hukum di negara ini cukup mengerikan. Beberapa waktu lalu misalnya, ada seorang PNS yang ditahan karena menulis status di FaceBook bahwa ia ateis misalnya (berita antara lain di sini).

Di samping itu, dunia maya sebenarnya bukan dunia nyata. Saya sendiri pernah melihat seorang dosen di kampus saya (walau saya tidak pernah diajar olehnya) berdebat hebat di sebuah mailing-list. Masalahnya, orang-orang yang dia lawan itu tidak jelas identitasnya. Mengapa? Karena mereka menggunakan nick-name. Buat saya, itu menggelikan. Andaikata sang dosen itu menang debat pun, apa yang dia dapat? Ibarat pepatah, “menang jadi arang, kalah jadi abu.”

Karena itu, saya berubah menjadi makin santai. Tidak masalah bila ada sesuatu yang mengganjal, tetap akan saya sampaikan. Cuma, di sini “self censorship” saya atas segala komentar (termasuk tulisan dan pembicaraan) saya makin kental. Bukan cuma melindungi keselamatan, saya juga tidak mau menyinggung orang lain. Saya makin berhati-hati karena dalamnya hati siapa tahu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s