That’s What’s a Friend for

“Itulah Gunanya Teman”.

Konteks “teman” di atas bagi saya lebih dekat pada pengertian “sahabat” atau “best friend”. Itulah yang saya lakukan saat pergi ke Bali selama beberapa hari. Tujuan utamanya adalah menghadiri pernikahan sahabat saya: Anwar Abdillah,ST. Dia adalah satu-satunya sahabat yang tetap bersama saya dan kekasih saya (saat itu) ketika saya difitnah sehingga terpaksa mengundurkan diri dari jabatan sebagai ketua organisasi di kampus. Jadi, di saat sulit tersebut saya hanya ditemani oleh dua orang saja saat yang lain menjauh. Biasa… ada gula ada semut, habis manis sepah dibuang. (Karena pengalaman macam inilah saya merasa pengalaman hidup saya di usia ini lebih banyak daripada kebanyakan orang lain.).

Anwar sudah membuktikan ia tidak terpengaruh pada isyu yang menjelek-jelekkan saya. Maka, meski sempat putus kontak karena kesibukan masing-masing, akhirnya kami “berjodoh” dan bertemu kembali. Saat ini, saya dan Anwar sedang merintis beberapa bisnis bersama. Insya ALLAH barokah. aamiin.

Itulah gunanya teman, selalu ada dalam suka dan duka. Saya sudah membuktikan diri kepada orang-orang yang saya anggap sahabat. Namun kerapkali justru bukan terima kasih yang saya dapat, malah caci-maki. Kalaupun saya dianggap salah, saya sudah minta ditunjukkan salah saya, dan saya bersedia minta maaf. Tapi ini tidak. Kalau sudah begitu, rasanya tidak salah jika saya terpaksa menjauh. “Dunia kecil” saya harus diproteksi demi kemajuan saya sendiri. Karena misi saya adalah menyelamatkan dan memperbaiki diri sendiri dahulu, baru orang lain.

Ada sahabat yang pernah saya tolong luar-biasa terutama di segi ekonomi, tapi ujung-ujungnya dia memusuhi saya. Sudah uang saya tidak kembali, lha kok saya-nya malah dimusuhi. Ada sahabat yang saya tolong di aspek pribadi, seperti membantu menyelesaikan konfliknya dengan sang pacar. Eh, setelah menikah (dengan orang lain, bukan pacar yang berkonflik itu dong, hehe) malah “sok sibuk”. Padahal, saya tahu ia masih sering kongkow bersama genk-nya dan sering liburan bersenang-senang. Jadi, bukan masalah waktu. Tapi masalah siapa yang ditemui. Saya dianggapnya tak pantas lagi jadi sahabatnya. Ada orang yang saya berusaha menjadikannya sahabat, tapi gara-gara selisih paham masalah deadline penulisan buku bersama, kemudian yang bersangkutan menghindar saat saya kontak. Padahal, beliaulah yang justru tidak tepat jadwal dan cedera janji. Ada orang yang malah sudah saya anggap saudara, antara lain pernah membantu mengevakuasi office boy saya yang terjebak dan ikut “kerja bakti” membereskan kantor saya sewaktu terkena banjir besar tahun 2007 (ada dua orang sahabat saya yang berperan saat itu), tapi kini keduanya menjauh. Yang satu menganggap saya berbisnis dengan kotor (astaghfirullah), sementara yang lain saya sungguh tak tahu apa alasannya selain kesibukannya dengan teman-teman barunya (walau saya menduga ia tersinggung saat saya menanyakan gajinya sewaktu saya hendak mengajaknya bergabung ke kantor saya).

Saya koleris. Saya perfeksionis. Namun saya bukan pedantis. (pahami perbedaannya di tulisan ini).

Saya sendiri tidak menuntut hal seketat itu bagi orang lain, karena saya pun tidak sempurna. Seperti saat ini saya sedang kedodoran jadwal merampungkan sebuah buku antologi dimana saya menjadi ketua timnya. Artinya, saya tahu saya bukanlah gading yang tak retak. Saya dus tidak sempurna, begitu kata Bung Karno dalam surat terakhirnya kepada Ratna Sari Dewi di tahun 1967. Bila Bung Besar saja tidak, apalagi saya yang bahkan bukan “bung”, meski kecil sekali pun. Maka, saya pun tidak menuntut kesempurnaan dari orang lain.

Apa yang saya minta hanyalah “take and give“. Dan saya biasanya sudah “give” duluan, sebelum “take“. Menjadi teman apalagi sahabat haruslah mengerti kebutuhan temannya. Biarlah saya disebut “transaksional” oleh seseorang yang saya sebenarnya hormati sebagai seorang yang bisa menjadi sahabat. Tapi itu lebih baik daripada sakit hati sudah merasa memberi banyak tapi tidak mendapatkan balasan selayaknya.

Karena itulah kepada sahabat seperti Anwar, saya rela melakukan “nyaris apa saja” (tentu yang masuk akal dan tidak melanggar hukum serta norma dong). Termasuk pergi ke Bali menghadiri pernikahannya, seperti kali ini saya lakukan.

Untuk para sahabat saya yang sedikit, pegang janji saya: Inilah Bhayu. Saya akan senantiasa ada di sisimu dalam suka dan duka. Insya ALLAH.

“That’s What’s a Friend for”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s