Pers Indonesia 2012

Tiap tahun Hari Pers Nasional selalu diperingati tiap tanggal 9 Februari, namun sudahkah ada kemajuan bagi dunia pers kita? Saya sendiri melihatnya berada dalam kondisi stagnasi. Tentu saja ini dipandang dari sudut pemberitaan dan kesejahteraan insan pers (yang bukan hanya jurnalis). Sementara dari sudut pandang korporasi bisa jadi bisnis di bidang ini dipandang menguntungkan sehingga beberapa konglomerat memutuskan untuk memiliki media sendiri.

Dari sudut pemberitaan, saya malah menilai ada kemunduran dari pers Indonesia. Hal ini karena empat hal. Pertama, iklim kebebasan pers tidak dimanfaatkan dengan baik untuk mengalakkan jurnalisme investigasi. Yang ada malah jurnalisme caci-maki belaka. Saling fitnah dan menjelekkan antar tokoh diakomodasi oleh media dengan bebas. Acungan jempol tetap bagi “pemain lama” seperti Tempo dan Kompas yang kerap menampilkan “liputan kejutan”. Kedua, pemberitaan yang dilakukan oleh media yang dikuasai pemilik yang bukan kebetulan juga politikus justru kerap melupakan prinsip dasar jurnalisme yaitu “berimbang”. Berita kerap berpihak dan menonjolkan sisi pemilik modal saja. Ketiga, kerapnya keseragaman berita yang ditampilkan, terutama bagi media nasional. Keberagaman Indonesia kurang nampak dalam pemberitaan. Pengecualian pada penonjolan aspek ke-Indonesia-an sekali lagi justru pada Kompas dan KompasTV. Dan keempat, media justru kerap memicu masyarakat untuk mencontoh pemberitaan yang ditampilkan. Misalnya cara berdemo anarkis. Keharmonisan dan persatuan bangsa dikesampingkan demi pemberitaan yang dianggap bombastis.

Itulah yang saya anggap kemunduran dari sisi pemberitaan. Meski tentu kebebasan bicara kemudian menampilkan banyak tokoh-tokoh baru, namun seringkali “pendapat pakar” atau “ulasan pengamat” seperti itu terlalu “taken for granted”. Sehingga tanpa data dan fakta jelas justru opini yang disampaikan menimbulkan kebingungan publik.

Sementara dari sisi kesejahteraan insan pers, masih belum ada standarisasi jelas. Sehingga masih ada “koran kuning” yang jurnalisnya tidak digaji sehingga ‘menghalalkan’ mereka melakukan pemerasan. Usulan saya sekian tahun lalu untuk melakukan sertifikasi kompetensi jurnalis juga belum terwujud. Walau katanya sudah pernah ada yang membahas di Dewan Pers (tentu bukan atas nama saya, tapi diklaim diusulkan orang lain).

Di balik segala kekurangan itu, saya masih yakin akan adanya peluang bagi pers Indonesia untuk benar-benar menjadi “the fourth estate”. Karena itu, insya ALLAH, saya sedang berupaya keras mendirikan sebuah media baru yang independen dan non-partisan. Do’akan saja semoga bisa membantu Indonesia menuju lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s