Menyembunyikan Nama atau Identitas

Terus terang, tulisan ini diinspirasi oleh sedikit perbedaan pendapat saat saya beraudiensi dengan seorang senior di bidang media yang saya hormati. (Perhatikan, saya tidak menyebutkan namanya). Intinya, saat saya menceritakan pengalaman saya yang negatif dengan sebuah lembaga internasional, ia mendesak saya menyebutkan siapa orang yang menangani masalah itu. Tentu, karena sebagai seorang yang pernah diberi kepercayaan oleh lembaga itu, beliau sangat mengenal orang-orang di sana. Jadi, beliau mendesak saya menyebutkan nama agar bisa memverifikasi cerita saya. Sementara saya justru tidak merasa perlu adanya verifikasi.

Kalau Anda membaca penyangkalan (disclaimer) blog ini yang tautannya selalu ada di bagian teratas laman home, saya menyebutkan bahwa pemilik blog yaitu saya bisa menyembunyikan nama atau identitas sumber tulisan (termasuk bila sekedar inspirasi dari kejadian yang saya alami). Di sini, pedoman saya karena blog adalah karya tulis jurnalistik (walau jurnalisme warga), maka saya menggunakan pedoman dari dunia itu pula. Ada dua alasan sumber anonim: berbahaya bagi sang sumber atau justru bagi penulis/jurnalis-nya sendiri.

Sementara untuk pembicaraan yang terjadi di awal tulisan, adalah berbasis agama yang saya anut. Kenapa? Karena membicarakan sesuatu yang bersifat negatif adalah bergunjing atau bahasa Arab-nya “ghibbah“. Ini adalah perbuatan yang diharamkan dalam Islam. Kalau kita menceritakan suatu kejadian agar dapat diambil hikmahnya, juga sebaiknya tidak diberi identitas jelas siapa pelakunya (dalam terminologi Islam, di hadits sering dipakai istilah “fulan” untuk menyebut pelaku tindakan negatif semacam ini).

Mohon perhatikan bagaimana cara saya menceritakan kejadian kecelakaan tabrakan di kawasan Tugu Tani-Jakarta Pusat (baca kembali di sini). Saya sama sekali tidak menyebutkan nama pelaku karena alasan ini. Contoh lain adalah kejadian faktual yang menimpa sahabat saya saat kena tilang tanggal 13 September 2011 lalu (tulisannya berjudul “Beking”, silahkan baca kembali di sini bila berkenan). Justru sebagai bentuk verifikasi bahwa saya tidak bohong dan sekedar mengarang cerita, tanpa diduga yang bersangkutan sendiri berkomentar di bawah tulisan saya.

Dalam konteks tulisan di atas, tulisan blog menjadi bukan bersifat jurnalistik terkategori berita aktual (hard news), namun fitur atau tulisan ringan (feature). Dalam fitur, biasanya sumber berita bukan menjadi pokok penceritaan, melainkan justru alur penceritaan, ceritanya atau obyeknya. Perhatikan misalnya tulisan soal wisata dimana sumber berita biasanya dianggap tidak penting, karena tulisan lebih bersifat ulasan penulis berdasarkan observasinya di lokasi. Sementara untuk berita aktual, jelas sumber penting karena akurasi berita diukur dari situ. Karena itu dalam pemberitaan kasus korupsi tentunya yang dikutip sebagai sumber berita adalah aparat penegak hukum alih-alih penjual soto di lokasi wisata misalnya.

Ada alasan lain yaitu “off the record warning“. Ini adalah permintaan dari nara sumber atau sumber berita untuk tidak disebutkan nama atau identitasnya, namun pendapatnya boleh dikutip. Dalam konteks lain, saya menyebutnya sebagai “amanah” dalam bagian sebagai “menjaga rahasia orang lain”. Sama saja dengan “ghibbah“, rahasia yang harus dijaga itu biasanya dianggap akan merugikan si penutur, kadangkala berupa aib baik pihak lain atau dirinya sendiri.

Saya sendiri kerap menerima pesan semacam ini dalam konteks adanya donasi untuk suatu kegiatan. Ada donatur yang hanya mau disebut “Hamba Allah”. Demikian pula investor dalam bisnis, terkadang mereka tidak mau disebutkan karena alasan pribadi yang sangat subyektif. Saya menyebut mereka “ghost angel investor” (investor berhati malaikat yang tersembunyi). Dan tentu menjaga kepercayaan mereka jauh lebih penting ketimbang memamerkan kepada orang lain bahwa saya kenal orang ini atau itu (karena biasanya mereka cukup dikenal publik). Perhatikan, saya beberapa kali hanya menyebut istilah “mentor saya”, atau seperti di awal tulisan “seorang senior yang saya hormati”.

Jadi, itulah alasan saya menyembunyikan nama atau identitas seseorang atau lembaga. Hal itu bisa terjadi dalam tulisan atau pembicaraan. Karena itu mohon permakluman bila Anda terpaksa harus penasaran… 😉

Catatan: Semoga beliau yang mengaku sering membaca blog ini berkenan menerima penjelasan saya. Saya melakukan ini justru karena rasa hormat yang tinggi kepada beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s