Bermain Game

Ada berita di yang dikutip yahoo Indonesia dari ghiboo.com yang mengklaim seorang nenek mengaku “awet muda” karena bermain game (berita bisa dibaca dengan mengklik tautan ini). Segera saja saya teringat pada pembahasan buku “The Invisible Gorilla” (resensi bisa dibaca di pustakabhayu.com).  Dalam buku itu, dilakukan eksperimen ilmiah yang valid oleh profesor lulusan psikologi Harvard University mengenai klaim semacam. Dan ternyata, eksperimen berkali-kali membantahnya.

Celakanya, biasanya ada satu kali eksperimen pertama yang dianggap berhasil. Namun, ternyata eksperimen pertama ini biasanya juga sekaligus jadi yang terakhir. Artinya, keberhasilan eksperimen pertama tidak pernah bisa diulang. Padahal, syarat sebuah eksperimen ilmiah bisa diterima sebagai teorema adalah ia bisa diulang kapan saja dan di mana saja, selama syarat-syarat eksperimen terpenuhi. Salah satunya biasanya adalah pengandaian adanya “suhu kamar” yang tetap untuk eksperimen sains atau kondisi “ceteris paribus” untuk eksperimen atau observasi humaniora.

Selain game, buku tersebut juga membahas kepalsuan klaim “efek Mozart”. Saya sendiri lantas mengkaitkannya dengan kepalsuan klaim “The Secret”, aktivasi otak tengah dan semacamnya. (saya akan bahas soal ini di kesempatan lain).

Well, saya sendiri gamers. Meski bukan online gamers. Sempat nyandu game “Mafia Wars” di Face Book hingga level lumayan (tanpa cheating code lho), tapi sekarang sedang insyaf.

Game memang adiktif. Ia seperti candu efeknya. Saya biasanya lari ke game bila sedang suntuk. Buat saya, itu lebih baik daripada lari ke zat berbahaya seperti narkoba atau alkohol. Bahkan merokok saja saya tidak. Sementara kopi untungnya tidak nyandu (walau dulu pernah, tapi alhamdulillah sudah bisa lepas). Game derajatnya sama dengan semua itu.

Rekor saya bermain game adalah saat masih SMP, yaitu 2 hari bermain game pesawat tempur “F-16 Fighting Falcon” di komputer. Maklum, waktu itu ayah saya baru saja memberikan hadiah komputer baru bertipe AT-486/DX-4 (hayo, ada yang ingat nggak jenis komputer jadul ini? hehe). Rekor dua hari tentu tidak ada apa-apanya. Karena saya baca ada online gamers yang tahan duduk di depan komputernya sampai 3 bulan! Bahkan di Taiwan dan China ada yang sampai meninggal dunia. Halah!

Intinya, janganlah sampai nyandu pada apa pun. Karena segala yang berlebihan tak baik akibatnya. Kembali ke berita soal nenek tadi, saya lantas mafhum. Kenapa? Karena di dalam berita ada merek yang disebut (Nintendo). Maka jelas obyektifitas klaimnya makin hancur dan tidak bisa dipercaya. Walau, kalau mau percaya sih boleh saja sebagai sugesti dan menghibur diri. Setidaknya bisa menipu diri sendiri bahwa bermain game punya manfaat lain selain relaksasi. Hehe… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s