Musibah & Tetangga

Musibah memang bisa datang kapan saja. Kemarin, saat hujan deras kembali melanda ibukota, seorang petinggi di sebuah media menelepon saya. Ia membatalkan janji pertemuan dengan saya dan dengan murah hati menawarkan dua opsi penggantinya. Alasannya terdengar sederhana tapi bisa dimengerti: hujan. Selain mengkuatirkan kemacetan, ia juga mengkuatirkan keselamatan. Tentu saja karena pohon yang akhir-akhir ini kerap bertumbangan.

Dan benar saja, ada pohon tumbang lagi yang bahkan memakan korban jiwa. Kali ini seorang supir bajaj yang masih seusia saya. Kasihannya, Pemda DKI Jakarta sudah menyatakan tidak akan memberi santunan. Alasannya? Pohon yang tumbang bukan di pinggir jalan, melainkan di halaman kantor swasta. Haduh!

Pagi ini, kebetulan saya pulang ke rumah orangtua. Dan alangkah terkejutnya saya ketika mendapati petugas keamanan tengah menyiapkan bambu untuk “bendera kuning”. Lebih terkejut lagi saat tahu yang meninggal adalah tetangga depan rumah. Orangtua saya memang belum mengabari karena jarak waktu wafat dengan kedatangan saya cuma 2 jam. Dan saya agak repot karena di saat bersamaan harus menyiapkan pekerjaan untuk dua klien sekaligus. Kalau Anda pernah mempersiapkan prosesi pemakaman, tentu tahu dong kerepotannya seperti apa?

Kerepotan makin bertambah karena saya adalah anak tunggal dari keluarga biasa saja. Kami tak punya banyak pembantu, bahkan tak ada saudara di dekat kami. Alhamdulillah, lingkungan tempat saya dibesarkan memiliki tetangga yang sangat ramah, baik dan guyub. Selain ayah saya tokoh di lingkungan, saya sendiri juga cukup aktif saat remaja baik di Remaja Masjid maupun Karang Taruna. Sehingga, bahu-membahu antar tetangga sudah jadi kelaziman.

Ini berbeda dengan lingkungan perumahan yang cenderung individualistis. Beberapa hari lalu, di GenFM penyiarnya menanyai pendengar radio tersebut secara acak. Pertanyaannya sederhana: “kenalkah kamu dengan tetanggamu?” Ternyata, banyak yang tidak tahu. Saya bersyukur saya bukan sekedar mengenal tetangga dekat, namun juga tetangga satu kompleks yang jauh. Itu karena saya –alhamdulillah- relatif “gaul” di lingkungan sedari kecil.

Itu juga andalan saya apabila keluarga kami yang ditimpa musibah (naudzubillah min dzalik, tapi bagaimanapun kematian itu insya Allah terjadi bukan?). Bantuan dari tetangga sangat penting dalam kedukaan seperti itu. Karena persiapan pemakaman dan prosesi lain termasuk acara keagamaan tidak akan mungkin bisa ditangani sendirian oleh keluarga. Apalagi saya yang anak tunggal dan tidak memiliki keluarga dekat di Jakarta.

 

3 responses to “Musibah & Tetangga

  1. Inalilalahi Wainailaihi Rajiun

    mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik kepada sesama ya kang,termasuk kepada para tetangga rumah tempat tinggal kita.

    saya pernah menjadi “panitia” proses semacam ini,saat meninggalnya bapak saya,alhamdulillah karena mungkin sebab kebaikann beliau saat hidupnya kepada tetangga ,saat kematian beliau (almrhm),rumah saya seperti layaknya sebuah “konser musik “yang ngetop saat itu.,maksudnya pelayat yang datang begitu membuat saya terharu..dan berfikir,bagaimanakah saya bila nanti saat kematian saya tiba,akankah banyak yang peduli dan simpati..bahkan sampai menyolatkan mesjid itu penuh sesak sampai di buat beberapa shift bergantian..

    makasih kang bhayu,artikel ini,telah menyadarkan saya untuk mawas diri dalam hidup ini…

    salam
    AWD
    Riyadh.KSA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s