Pangsit & Wangsit

Meski cuma berbeda satu huruf, artinya berbeda jauh. Yang satu adalah nama makanan sejenis kerupuk yang sering disertakan dalam mie ayam, sementara satu lagi adalah semacam inspirasi. Di sini saya tentu tidak hendak membahas mengenai cara pembuatan pangsit atau wisata kuliner tentangnya. Namun saya justru ingin lebih menyoroti mengenai wangsit.

Menurut Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, S.J. dalam bukunya Berebut Jiwa Bangsa (2007:51), wangsit atau ilham dapat diartikan sebagai proyeksi keterarahan batin sendiri. Menurutnya, wangsit masih dalam kategori sama dengan rasa atau political instinct. Beliau mengutip apa yang ditegaskan sebagai inti usaha penjernihan batin yang dikemukakan oleh Santo Ignatius dari Loyola (1492-1556), pendiri Ordo Serikat Yesus. Masih menurut Prof. Franz Magnis, Ignatius mengemukakan agar manusia memperhatikan “gerakan dalam batin”. Apa saja yang membuat manusia gembira, bersemangat atau positif adalah pertanda “roh baik”, demikian pula sebaliknya. Ia lebih lanjut mengingatkan, jangan mengambil keputusan penting pada saat batin kita dikuasai roh jahat.

Seperti halnya pangsit, tidak semua wangsit itu enak atau positif. Ada pangsit yang tidak enak rasanya, demikian juga ada wangsit yang negatif.

Di sinilah perlunya ilmu. Seperti kata pepatah, ilmu tanpa agama tuli, agama tanpa ilmu buta. Karena wangsit biasanya datang kepada orang yang agamanya bagus. Asalkan kita “menjernihkan batin” seperti dikatakan St. Ignatius dari Loyola, wangsit akan datang. Tuhan sendiri yang akan menilai pribadi manakah yang akan diberikan wangsit itu.

Berbeda dengan pangsit, wangsit tak bisa dibeli. Nah, karena itu kalau ada orang yang seolah menawarkan jasa untuk mendapatkan wangsit, maka jelas ia tidak bisa dipercaya.  Karena itu, kejernihan seseorang dalam beragama menentukan seberapa bagus kualitas wangsit yang ia dapatkan. Sama saja dengan pangsit, makin bagus tepung dan bahan-bahan lain yang dipakai, ditambah keahlian orang yang mengolahnya, maka akan makin enak rasanya. Jadi, hati-hatilah dengan wangsit. Bila belum mampu sampai pada taraf “mencari wangsit”, lebih baik makan pangsit saja. Mudah, murah dan praktis. Hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s