Tempat Usaha & Tempat Tinggal

Saat saya menyodorkan kartu nama, cukup sering saya ditanya soal alamat yang dipergunakan, “Ini rumah atau kantor?” Bahkan ada pula tamu yang sudah datang “membutakan diri” dengan bertanya, “Ini rumah atau kantor?” Kemarin, seorang teman lama melalui message di FaceBook juga menganggap bahwa kantor dan rumah saya itu sama.

Padahal tidak. Rumah tempat tinggal dan kantor saya berbeda. Kantor tersebut memang berbentuk rumah, dalam arti bukan berbentuk gedung bertingkat. Tapi, tidak ada tanda-tanda sama sekali kalau bangunan berbentuk rumah itu dipergunakan sebagai tempat tinggal (dan memang sejak dulu dipergunakan sebagai kantor dengan izin lengkap). Di dalam bangunan hanya ada meja kerja lengkap dengan kursi kerja dan komputer, meja meeting, lemari arsip dan buku serta peralatan kantor seperti fax, telepon dan sebagainya. Tidak ada ranjang atau lemari pakaian misalnya. Makanya saya bilang tamu tadi membutakan diri. Karena jelas ia sudah melihat di dalam bangunan tidak ada ciri rumah yang ditinggali seperti perabot rumah tangga.

Memang, sering saya tidur di kantor karena banyak pekerjaan atau terlalu lelah menempuh 1-2 jam perjalanan pulang. Tapi saya cuma gelar kasur lipat saja di lantai, karena memang tidak ada tempat tidurnya. Kalau mau sedikit nyaman ya paling tidur di sofa atau malah di mobil (Sekarang makin nyaman karena ada mobil yang masih gress. Pamer dikit ya… maaf. Saya sedang jengkel soalnya diremehkan seperti itu.). Kalau Anda pernah melihat orang media atau periklanan, banyak yang seperti saya.

Bahkan adik partner saya yang copywriter hebat itu (yang saya pernah cerita berkali-kali menang Citra Adi Pariwara dan ADOI Award) juga sering ‘berkemah’ di kantor. Padahal, kantornya di ‘gedongan’ lho. Nah, terkadang orang seperti teman saya yang ngantor-nya 9 to 5 sering hidup dalam tempurung. Tidak tahu ada orang yang bekerja dengan pola seperti itu. Asal tahu saja, mereka yang ngalong itu banyak yang  salary-nya lebih oke. Adik partner saya itu misalnya, hehehe, salary dan bonusnya nyaris menyamai anggota DPR!

Kenapa saya gusar?

Karena orang-orang itu berkata begitu dengan nada meremehkan dan melecehkan. So what kalau pun itu rumah tempat tinggal sekalipun yang dijadikan kantor? Atau malah kantor yang ditinggali? Bukankah ada konsep rukan dan ruko? Bahkan saya berkali-kali dengar kalimat seperti, “kantornya cuma di ruko”. Lho? Ruko itu mahal lho. Ayah saya punya ruko yang baru saja dijual dan harganya sekitar 1 M!

Rupanya, orang-orang itu menganggap lebih bergengsi berkantor di gedung bertingkat pencakar langit yang ada di jalan protokol. Padahal, di gedung megah itu ada yang cuma menyewa ruangan 3 X  3 meter misalnya. Bahkan ada yang cuma menyewa alamat tanpa ruangan atau lazim dikenal sebagai virtual office. Lebih berharga mana dengan bangunan berbentuk rumah milik sendiri seluas 150 meter persegi?

Sayangnya, banyak yang ‘silau’ dengan kemewahan semu semacam itu. Kalau cuma silau sih mending. Lha ini malah meremehkan orang lain.

Padahal, banyak perusahaan yang berkantor di bangunan berbentuk rumah. Jalan-jalan saja ke kawasan Kebayoran Baru, Menteng, atau BSD. Izin mereka sudah ada sebelum aturan baru berlaku (yang tidak membolehkan usaha di rumah, tapi bukan di bangunan berbentuk rumah). Aturan tersebut juga tidak berlaku surut. Kantor perwakilan agensi periklanan dari Amerika Serikat J. Walter Thompson di jalan Proklamasi-Jakarta Pusat misalnya, jelas berbentuk rumah.

Mereka-mereka itu pasti tidak tahu kalau si pembuat FaceBook Mark Zuckerberg memulai bisnis milyaran dollarnya dari kamar kost. Bahkan si jenius dan orang terkaya di dunia yaitu pemilik Microsoft Bill Gates memulai usahanya dari garasi rumah. Kalau Anda bisa baca blog saya ini, kebangetan kalau tidak tahu siapa itu Mark Zuckerberg dan Bill Gates. Dari Indonesia mantan boss saya sewaktu bekerja di Femina Group yaitu Widarti Gunawan dan Mirtha Kartohadiprodjo memulai kerajaan medianya juga dari garasi rumah. (Kalau ada yang tidak tahu Femina? Kebangetan juga.)

Karena itu bagi LifeLearner yang sedang merintis usaha dan masih menggunakan rumah tempat tinggal sebagai tempat usaha, percayalah, you are on the right track. Meski usaha Anda masih skala ‘warungan’, jangan kecil hati. Maju terus! Jangan pedulikan anjing-anjing yang menggonggong itu, karena kita kafilah (rombongan perjalanan) harus terus berlalu untuk kelak menjadi khalifah (pemimpin) di Bumi. Insya ALLAH.

One response to “Tempat Usaha & Tempat Tinggal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s