Pernikahan

Di Indonesia yang nilai komunalnya kental, pernikahan selalu jadi urusan “banyak orang”. Padahal, yang menikah sejatinya ya hanya sepasang: satu orang pria dan satu orang wanita. Tapi yang rebyek ternyata banyak orang.

Apalagi kalau yang menikah adalah wong gede seperti Ibas dan Aliya kemarin. Walah, sak pasar melu repot kabeh.  Hehehe.

Tapi terserahlah, itu urusan mereka. Kalau punya uang memang begitu adanya. Segala diada-adakan, termasuk yang mungkin sebelumnya tidak ada, sehingga jadi terkesan mengada-ada. Di pernikahan agung “royal wedding” kemarin misalnya, sampai dibuat loudspeaker khusus bermerek “Aliya” dan bass-subwoofer speaker bermerk “i-Bass”. Lucu, unik, tapi kok bagi saya terkesan neko-neko. Tapi ya sekali lagi terserah. Lha wong nduwe duit jee… Kok aku sing rewel. Hehe.

Dari perspektif lain, pernikahan rupanya dianggap sebuah “kelebihan”. Yang belum menikah dianggap belum laku. Hahaha. Saya tertawa terbahak-bahak bila ada yang merasa hebat hanya karena sudah menikah.  Kalau kepada wong elek, geblek, miskin lan ndeso seperti saya silahkan saja dikatakan begitu. Tapi apa Anda nduwe udel untuk mengatakan hal serupa kepada orang seperti Nicholas Saputra, Sandra Dewi atau Nadine Chandrawinata?

Pernikahan adalah kelanjutan dari jodoh. Jodoh, seperti halnya kelahiran, kematian, rezeki dan banyak hal lain di alam ini adalah misteri Tuhan. Kalau ada yang mencerca orang yang belum menikah seakan itu adalah tulah atau dosa yang bersangkutan, tentu tolol bin goblok.

Justru BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) sedang giat mengkampanyekan agar menunda menikah. Karena sebagian besar penduduk Indonesia justru tinggal di pedesaan dan bekerja di sektor informal, maka banyak yang menikah justru dalam keadaan belum siap. Terutama dari segi ekonomi. Akibatnya, saat punya anak menjadi kurang terawat baik dari segi kesehatan maupun pendidikannya.

Menikah adalah urusan pribadi. Maka meski saat merayakannya banyak yang ikut rebyek, namun itu adalah dalam soal kegembiraannya. Dalam soal pencarian dan persiapannya, tak ada yang lebih berhak untuk menentukannya selain sejoli sepasang kekasih tadi. Maka, janganlah ikut campur dan sok menasehati mereka yang belum menikah. Apalagi dianggap nggak laku. Waduh! Kalau didengar Ayu Utami, Anda bisa didamprat dan ditampar bolak-balik Medan-Jayapura dengan buku-bukunya. Bisa jadi  sekaligus dijadikan judul buku barunya: “Saya bilang kamu monyet!” 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s