Pembicara

Saya termasuk orang yang senang bila diminta jadi pembicara. Bahkan yang tidak dibayar sekali pun. Karena bagi saya bicara adalah semacam katalis ide dan sarana menyampaikan ilmu. Namun, saya tahu banyak yang sudah bosan jadi pembicara. Apalagi kalau yang mengundang kampus atau organisasi non-profit. Hampir bisa dipastikan cuma mendapatkan ucapan terima kasih. Masih untung kalau ada “salam tempel”, tapi kebanyakan cuma “salam genggam” saja. Plakat saja terkadang tidak ada.

Sementara di sisi lain, ada yang sibuk menjadi pembicara. Beberapa dosen pascasarjana saya begitu. Susah sekali ditemui karena sibuk memberi ceramah atau menjadi pembicara di mana-mana. Kalau seminarnya di hotel, sudah pasti ada yang dibawa pulang selain plakat. Dan enaknya, selesai acara biasanya langsung bisa dibawa tanpa perlu menunggu lagi. Sementara kalau jadi trainer biasanya harus menagih dulu ke bagian keuangan. Biasanya sekitar 2 minggu, hingga terkadang ada yang 3 bulan, baru dibayar.

Tidak sulit jadi pembicara. Tapi tentu itu bagi yang sudah biasa bicara. Yang sulit adalah membuat pendengar tetap memperhatikan hingga akhir pemaparan kita. Bagi mereka yang memiliki jabatan tertentu, sudah pasti akan diminta bicara di depan umum. Karena itu tak heran banyak yang sampai perlu mengambil kursus atau sekolah “public speaking” atau semacamnya.

Lebih sulit lagi bagi saya bila penyelenggara meminta adanya makalah. Kalau presentasi sih tidak sulit. Karena dengan software Power Point misalnya, bisa jadi cuma dalam hitungan menit. Sementara makalah tentu harus membolak-balik referensi agar berbobot. Karena bila asal njeplak, tentu itu jadi asbun alias asal bunyi.

Bila sudah terkenal, jadi pembicara satu kali sehari saja asal tiap hari, bisa mengalahkan gaji pegawai sekelas manager bahkan general manager lho. Walau tentu sangat jarang pembicara yang bertarif seperti Ayu Ting-Ting yang 20-30 juta per satu-dua jam, tapi jelas lumayan sebagai tambahan penghasilan. Apalagi, penghasilan sebagai pembicara termasuk di luar gaji sehingga sulit dikenakan pajak. Kalaupun kena, cuma 2 % saja. Tidak progresif. Mak nyus tho?

Karena itu, saya selalu siap bila diminta jadi pembicara. Bahkan mendadak sekali pun. Di saat orang lain sulit meluangkan waktu, saya sebaliknya, selalu stand-by. Sayangnya, karena nama saya belum terkenal, masih amat jarang yang mengundang saya. Seringnya malah saya dimintai tolong mencarikan pembicara. Ayo dong, undang saya. Hehehe… 😀

2 responses to “Pembicara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s