Demo Camat & Jurnalis

Hari ini, saya membaca berita adanya demo dari para camat dan lurah di Pekanbaru. Gara-garanya, mereka dimutasi dan diturunkan pangkatnya. (berita baca di sini).  Entah apa yang terjadi, memang kejadian seperti ini langka. Bukan demonya, tapi tindakan penurunan pangkat. Memang, banyak PNS kita yang kurang kompeten. Di samping itu, seperti pernah dilansir berbagai media massa, jumlah PNS kita memang terlalu banyak. Hal ini mengakibatkan pemborosan anggaran negara yang signifikan. Akan tetapi, seharusnya langkah kepegawaian apa pun didahului dengan prosedur yang benar. Misalnya untuk menilai kinerja, bisa diadakan assessment test. Demikian pula langkah demosi (penurunan pangkat) atau tindakan pendisiplinan lain seharusnya didahului surat peringatan.

Demo lain lagi dilakukan di Jakarta oleh sejumlah jurnalis. Mereka mendemo SMAN 6 dan meminta pertanggungjawaban Kepala Sekolahnya karena siswa SMA itu mengeroyok, memukuli dan menganiaya reporter Trans7 bernama Oktaviardi. Hal itu karena sang reporter mengambil gambar saat terjadi tawuran antara SMAN 6 dengan SMAN 70 pada hari Jum’at (16/9). Namun bukannya disambut dengan simpatik, siswa SMA yang dapat dikategorikan favorit itu malah kembali melakukan tindakan kekerasan. Hari ini kembali terjadi pemukulan terhadap Panca Syaukani (Media Indonesia), Aldi Gultom (Rakyat Merdeka online), Riman Wahyudi (Radio Elshinta), Septiawan (Sinar Harapan) dan Antonius Tarigan (stringer Metro TV)- berita di sini.

Tentu saja saya mengecam keras dan mengutuk tindakan anarkis itu. Ternyata, ancaman terhadap profesi jurnalist datang dari mana-mana. Bukan hanya dari aparat keamanan atau negara saja, tapi juga dari warga negara. Padahal, apa yang diliput jurnalis di SMA tersebut “nggak ada apa-apanya“. Malah, dengan aksi ini, membuat nama SMAN 6 tercoreng. Kapolri sendiri sampai turun berkomentar atas peristiwa yang dari segi skala sebenarnya tidak terlalu besar itu.

Demo memang sering dilakukan pasca reformasi. Padahal, seharusnya demo dilakukan setelah segala cara lain termasuk diplomasi dan negosiasi mentok. Apabila demo dilakukan terhadap sebuah sekolah dan kepala sekolahnya, apakah itu berarti sebagai pendidik dan institusi pendidikan mereka tidak mau kompromi dan malah mengedepankan kekerasan? Saya kira tidak. Karena itu tidak ada ampun, para siswa pengeroyok jurnalis harus dihukum berat. Selain dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat, mereka juga harus dipenjara karena tindakan mereka adalah delik pidana dan termasuk kriminal!

bhayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s