Beking

Menjelang makan siang, saya dikejutkan telepon seorang sahabat yang meminta bantuan. Sebenarnya perkaranya tidak sulit, cuma karena mendadak jadi bingung. Ia sedang mengendarai mobil di sekitar Hotel Indonesia (HI) dan dihentikan oleh polisi lalu lintas (polantas). Karena merasa tidak bersalah, ia menolak ditilang. Akibatnya, sang polantas mengambil STNK-nya dan berlalu begitu saja tanpa memberikan surat bukti tilang. Saya dimintai bantuan apakah memiliki teman polisi untuk mengurus STNK-nya itu.

Saya pun pontang-panting menelepon beberapa orang. Seorang teman perwira sedang bertugas di Palembang, suami seorang teman yang juga perwira di Riau, suami mantan saya sedang menjalani pendidikan lanjutan di Semarang. Halah! Saya mencoba menelepon mantan kolega saya, ia mencoba menghubungkan dengan kenalannya yang seorang reserse. Satu orang lagi sobat saya mengatakan mantannya sewaktu SMA -teman kami berdua- malah tidak lulus Akpol dan sudah hilang kontak. Saat saya masih sibuk mencari bantuan, sobat saya tadi memberi kabar, masalah sudah beres. Caranya? Ia mendatangi pos polisi bundaran HI dan mencari polantas bernama A.S. itu. Setelah negosiasi, diberinya uang Rp 100.000,00, dan urusan pun beres. STNK kembali, ia tak ditilang. Saya pun harus membatalkan permintaan bantuan ke beberapa teman tadi.

Di sini, saya merasakan perlunya beking. Saya memang punya beberapa kenalan polisi berpangkat tinggi, bahkan ada yang berbintang (antara lain saya pernah cerita memiliki teman dekat anak seorang perwira tinggi yang pangkatnya sama dengan Susno Duadji bukan?). Namun, rasanya aneh kalau saya meminta tolong cuma untuk urusan tilang di jalan, apalagi yang kena bukan saya. Saya ‘menyimpan’ bantuan mereka bila memang suatu saat perlu nantinya.

Beking yang levelnya lapangan atau operasional ternyata juga perlu. Saya jadi ingat dulu pernah ‘menyia-nyiakan’ seorang kenalan polisi yang sering mampir ke kantor, semata karena saya nilai agak nakal. Padahal, justru untuk menangani hal semacam ini yang nakal malah lebih berani. Dan meski menyebalkan, rupanya orang-orang macam ini tetap diperlukan untuk melakukan “dirty jobs” kita. Duh…

4 responses to “Beking

  1. Ping-balik: Menyembunyikan Nama atau Identitas « LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s