Andaikata…

Menyaksikan film-film bertema “mesin waktu”, sering sekali saya lantas jadi melamun. Kata “andaikata” pun segera terngiang di telinga. Ada beberapa “andaikata” yang bersifat pribadi, seperti andaikata saya bersekolah di tempat berbeda. Namun, banyak juga yang bersifat luas. Misalnya, saya berkhayal andaikata saya bisa membawa persenjataan saat ini ke masa revolusi fisik memperjuangkan kemerdekaan, bisa jadi Indonesia merdeka lebih cepat. Dengan begitu, kemungkinan menjadi negara maju bakal lebih besar. Apalagi bila kita sudah merdeka sebelum Perang Dunia II pecah. Sehingga saat terjadi perang yang kemudian membawa dunia kepada tatanan seperti sekarang ini, kita sudah punya posisi di peta percaturan politik internasional.

Beberapa waktu lalu saya membaca buku karya kolega saya di kampus, Ahmad Y. Samantho. Judulnya Peradaban Atlantis Nusantara: Berbagai Penemuan Spektakuler Yang Makin Meyakinkan Keberadaannya. Anda mungkin tahu bahwa kepulauan nusantara kita ini diduga sebagai pusat peradaban awal manusia yang dikenal sebagai Atlantis. Penelitian Prof Arysio Santos, Ph.D. yang dituangkan dalam buku The Lost Continent Finally Found adalah yang pertama kali mempopulerkan kehebohan ini. Meski secara ilmiah bisa dipertanggung-jawabkan, saya sendiri agak bingung manfaat dari ‘klangenan’ macam ini. Apa yang bisa kita dapatkan dari klaim bahwa kitalah pewaris Atlantis yang hebat itu? Kecuali mungkin kita punya teknologi ekskavasi dan eksplorasi arkeologi dan geologi luar biasa, sehingga bisa menemukan berbagai artefak yang luar biasa di bawah tanah dan laut kita. Padahal, selama ini justru banyak kekayaan alam kita dikeruk habis-habisan oleh negara asing, termasuk harta dari kapal karam seperti pernah terjadi di tahun 2010 lalu (tentang itu baca kembali di sini).

Andaikata memang benar kita adalah bangsa keturunan Atlantis, dan di bawah kepulauan nusantara terkubur peradaban hebat berusia ribuan tahun, pertanyaan berikutnya adalah “lantas apa”? Andaikata dunia mengakui kita adalah bangsa hebat, apakah itu lantas menghapus posisi kita saat ini sebagai negara dunia ketiga? Akankah lantas negara-negara lain mengangkat Indonesia sebagai pemimpin dari “satu bumi”, cita-cita yang justru diidamkan zionis? Terus-terang saya tidak yakin. Ini untuk tidak mengatakan “mustahil”.

Amerika Serikat sebagai pemimpin Sekutu  memenangkan Perang Dunia II bersama Uni Sovyet. Negara ini kemudian juga memenangkan Perang Dingin melawan seteru abadinya Uni Sovyet. Ini membuatnya menjadi negara adikuasa di dunia satu-satunya hingga saat ini. Meski tentu saja beberapa negara lain mulai menggeliat seperti China dan Rusia (penerus Uni Sovyet yang bubar). Sejarah dunia mencatat, bahwa penguasa berbagai belahan bumi mendapatkan kekuasaannya dengan cara peperangan dan penaklukan. Meski ada saja yang dengan cara penyebaran kebudayaan, namun sifatnya justru sebagai pelengkap dan amat lambat.

Bila kita hendak meraih kejayaan seperti Atlantis, tentu saja kita harus bersiap untuk perang. Si vis pacem, para bellum, demikian peribahasa Latin yang diduga berasal seorang petinggi militer Romawi bernama Publius Flavius Vegetius Renatus. Artinya, “jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang”. Namun itu baru bisa terjadi kalau kita bisa membenahi permasalahan bangsa, terutama di bidang perekonomian. Karena perang jelas memakan biaya teramat besar. Apalagi perang modern dengan menggunakan persenjataan berteknologi tinggi yang amat mahal. Selama itu belum terjadi, kita cuma bisa berandai-andai saja…

Kecian deh lu!

bhayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s