Marah

Marah frontal kepada orang lain yang saya kenal hanya satu kali saya lakukan seumur hidup, yaitu kepada teman kuliah partner saya saat kami hendak mempekerjakannya. Saya menilai ia –yang sehari-hari bekerja sebagai dosen di sebuah PTS- tidak tahu menempatkan diri. Kami akan memberinya pekerjaan –berarti posisi kami “Tangan Di Atas”, namun yang bersangkutan malah memaksakan dirinya berdiri sejajar dengan kami. Caranya, dengan menetapkan syarat-syarat berlebihan bila ingin kami mempekerjakannya. Seolah-olah ia adalah satu-satunya ahli di bidangnya.

Sebagai gambaran, kalau yang bicara setinggi itu adalah Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, boleh-boleh saja. Sudah beliau lulus dengan Magna Cum Laude, juga keahlian beliau amat sangat langka. Tapi ini cuma lulusan baru sebuah sekolah tinggi teknik yang berlagak ahli hebat, kan aneh?

Kalau kepada pegawai, hanya kepada level Office Boy saya pernah begitu. Itu pun hanya tiga kali. Ketiganya kepada tiga orang berbeda karena yang bersangkutan melakukan kesalahan fatal. Pertama karena ia menjatuhkan saya dari motor yang dikendarainya dengan serampangan. Itu membuat saya nyaris wafat tertabrak taksi, yang bempernya hanya tinggal sekitar 30 cm dari kepala saya. Kedua karena yang bersangkutan membuat saya terjatuh saat sedang menginspeksi pembenahan listrik di kantor. Akibatnya kaki saya pincang selama dua bulan. Ketiga karena O.B. tersebut merusak dokumen penting kantor saat saya suruh mempiguranya.

Kalau kepada orang lain yang tidak saya kenal, cukup sering saya lakukan. Misalnya kepada pedagang yang curang, pengemis yang memaksa minta uang, bahkan preman yang melecehkan pasangan saya dahulu. Kemarahan kepada orang lain ini juga dilandasi alasan kuat, tidak sembarangan saya lakukan.

Yang saya sesali justru seringnya saya marah kepada pasangan saya karena alasan sepele. Padahal, justru dialah yang paling memaklumi dan memahami saya. Seringkali saya malah jadi sedih setelah terpancing marah, kebanyakan karena alasan klise “merasa tidak dipahami”.

Dalam Islam, marah diperbolehkan. Hampir semua Nabi juga diceritakan dalam kitab suci pernah marah semasa hidupnya. Hanya saja alasannya harus jelas dan tidak memaki. Memaki justru tidak diperbolehkan karena akan menyakiti. Jadi, kalau diistilahkan marah dengan proporsional. Apakah saya mampu melakukannya? Hohoho, jauh sekali, jelas tidak!

Nafsu amarah merupakan salah satu dari 4 jenis nafsu dalam Islam. Yang lainnya adalah nafsu syataniyah, lawammah dan muthmainah. Hanya satu yang sama sekali tidak boleh dilakukan, yaitu nafsu asy-syataniyah atau keinginan berbuat kejahatan. Sementara nafsu al-muthmainah justru dianjurkan karena kebalikannya yaitu keinginan berbuat kebaikan. Dua yang lain diperbolehkan dengan kendali penuh. Dalam psikologi, kendali ini disebut “Emotional Intelligence”.

Saya sendiri merasa EI saya cukup rendah, karena sering naik-turun tanpa mampu saya cegah. Berbagai latihan pribadi telah saya lakukan, namun karena kurangnya dana untuk membayar coach atau ahli, juga untuk mengikuti semacam pelatihan atau terapi, kemajuannya lambat. Saya hanya mampu membeli buku saja dan mencoba mempraktekkannya. Maka, yang bisa saya lakukan cuma memperbanyak mendekatkan diri kepada Tuhan saya. Walau sejujurnya ini melelahkan, karena disiplin beribadah sudah sulit saya lakukan justru semenjak menjadi usahawan. Dan makin sulit lagi sejak saya mengenal pasangan saya yang sekarang karena mentoleransi beliau.

Jalan keluar singkatnya, saya justru berusaha menempatkan setiap orang setara dan harus saya hormati. Seringkali karena merasa pasangan dan orang dekat selalu akan maklum, maka kita memperlakukan mereka seenaknya. Dan itulah yang menyebabkan kemarahan sering meletup karena hal-hal yang tidak terlalu prinsipil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s