Sakit, Pengobatan dan Biaya

Pernahkah Anda sakit?

Pasti pernah. Karena kalau tidak pernah sakit, tentu bukan manusia. Kalau bukan manusia, tentu tidak hidup di dunia, tapi mungkin di suwarga kahyangan sana.

Di dunia ini, pasca Renaissance segala sesuatu menjadi obyek kapitalisme dan industrialisasi. Demikian pula kesehatan. Segala upaya manusia untuk tetap sehat dijadikan kapital. Bukan hanya obat dan biaya pengobatannya -termasuk jasa dokter dan tenaga ahli kesehatan- saja, tapi juga upaya untuk tetap sehat. Kini banyak sekali aneka suplemen dan vitamin yang diproduksi. Bahkan sekedar air bening atau air mineral saja diposisikan sebagai sarana penjaga kesehatan. Juga aneka makanan dan minuman yang diberi label “organik”.

Kalau hidup di perkotaan, memang kita hampir selalu bertemu dengan beton dan besi. Nuansa alam seperti pepohonan terkesan sebagai aksesoris belaka. Ini seakan sudah menjadi gambaran dari dunia manusia saat ini.

Padahal, Indonesia adalah negara yang luas. Kita memiliki lahan pertanian, perkebunan, hutan dan laut yang luar biasa hebat. Sayangnya, banyak hasilnya yang dikeruk oleh negara lain dan justru setelah diolah dan dikemas, dikembalikan lagi kepada kita sebagai barang konsumsi. Jadi, sebenarnya kita disuruh beli hasil “kebon sendiri” yang sudah diolah dan dibungkus orang lain.

Saya sendiri heran melihat iklan di TV yang banyak menawarkan suplemen pengganti atau vitamin. Itu kan kalau negaranya susah lahan dan minim produk pertanian seperti Jepang? Lah, kalau kita bisa langsung makan sayuran segar, buat apa mengkonsumsi vitamin yang sudah dikemas dalam bentuk suplemen?

Coba perhatikan atau tanyakan kepada ahlinya, apa saja penyakit orang-orang kota saat ini. Kebanyakan justru disebabkan karena “bikinan sendiri”. Berbagai penyakit itu timbul karena banyak mengkonsumsi makanan dan minuman kemasan. Residu dari bahan pengawet dan bahan kimia yang digunakan menumpuk. Apalagi kalau tidak higienis. Beberapa kali menyaksikan acara Investigasi di Trans7, membuat saya miris. Begitu banyak bahan kimia digunakan untuk menipu konsumen. Mulai dari bakso daging tikus, pewarna tekstil untuk saos, hingga pengental bumbu yang sejenis semen. Waduh! Jadi apa tubuh ini kalau mengkonsumsi bahan-bahan yang jelas bukan untuk manusia itu?

Makin miris lagi saat tahu bahwasanya sebenarnya biaya untuk pengobatan seharusnya bisa tidak semahal itu. Baik itu jasa dokter dan tenaga kesehatan, obat atau terapinya. Justru industrialisasi kesehatan-lah yang membuat pemilik modal jelas mengutamakan kapital. Padahal, jelas pengobatan awalnya berbentuk pelayanan kesehatan.

Nah, agar tidak terjebak pada mahalnya biaya, mari kita merawat diri sendiri. Konsumsi makanan dan minuman sehat, langsung dari alam dan organik. Kurangi konsumsi penganan kemasan dan berkolesterol tinggi. Seimbangkan gizi termasuk menyantap sayuran dan buah di samping lauk pauk berupa daging, lebih baik lagi bila daging digantikan dengan ikan. Berolahraga secara teratur dan juga memiliki pola hidup sehat termasuk tidur teratur (hehe, untuk yang terakhir saya sulit tuh…).

Sebagai tindakan preventif untuk menghadapi kemungkinan biaya yang tinggi saat sakit (karena sakit tak bisa diduga), ada baiknya bila juga mengambil paket asuransi kesehatan. Terserah bagaimana pola dan penyedianya, yang penting kita memiliki dana darurat saat diperlukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s