Personal Brand (2)

Sambungan dari posting hari Senin lalu (baca lagi di sini)

Sahabat saya Rene Suhardono -penulis buku laris Your Job is not Your Career dan pengisi kolom Ultimate-U di harian Kompas tiap Sabtu- pernah memuji saya di suatu acara seminar sebagai pribadi yang selalu tersenyum (alhamdulillah, thank’s Rene). Padahal, sejatinya ya saya tidak selalu tersenyum. Capek dong. Nanti kering bibirnya, hehe. Cuma, hanya inner circle saya yang pernah melihat saya dalam kondisi tidak tersenyum. Sebagai manusia, saya juga bisa marah, sedih, capek, bengong, atau diam saja. Kalau baru bangun tidur, saya tidak lantas teriak “Semangat Pagi!” seperti sering diteriakkan para motivator. Ya normal saja. Bengong sebentar, atau istilahnya “ngumpulin nyawa”, ngucek-ucek mata, ngulet, bahkan sering balik tidur lagi, sebelum akhirnya benar-benar bangun dan beranjak ke kamar mandi.

Akan tetapi, di hadapan publik, di depan peserta pelatihan, saat meeting apa pun, saya berusaha selalu menampilkan senyum. Meski tentu tidak senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Senyum di sini menunjukkan penerimaan dan keramahan. Tapi terus-terang, saya tetap tidak bisa tersenyum pada beberapa jenis orang tertentu, misalnya polisi yang menyetop kendaraan saya (hehe, maaf ya Om Pol).

Senyum merupakan cara termudah untuk membangun citra diri yang positif. Mengutip ungkapan dari XL Effendi Budi P. dalam bukunya Branding You with Your Smile: Strategi Membangun Citra Diri di Depan Publik (2006:60-61), apabila kita mengesankan keramahan kepada orang lain, maka orang-orang yang kita temui akan tampak ramah, bahkan dunia pun akan tampak ramah. Dalam buku tersebut, Effendi mengkaitkan pentingnya senyum dengan personal branding. Karena menurutnya senyum merupakan salah satu strategi dalam membangun citra diri.

Tak bisa dipungkiri, personal brand semata adalah masalah citra diri, yaitu bagaimana kita ingin dipandang dan dipersepsikan oleh orang lain atau publik. Tiap orang punya, walau ia tak menyadarinya apalagi membangun dan merawatnya. Bila mengingat tulisan saya pekan lalu tentang SBY, kita ambil saja contoh beliau. Masih ingat saat-saat kampanye Pemilu Presiden? Bagaimanakah beliau tampil ke hadapan publik? Hampir pasti selalu tersenyum sesumringah mungkin, tangan terkembang seolah tanpa lelah selalu bersedia menerima masukan. Tapi bagaimana sekarang? Lihat saja kalau beliau tampil, terutama saat merespon isyu berkenaan dengan dirinya yang oleh para pengamat sering diledek sebagai “curhat” itu. Beliau tampail kuyu, lelah, dan tak bersemangat. Bahkan beberapa kali beliau menunjukkan kemarahannya di hadapan publik.

Ini jelas bukan pencitraan yang baik. Coba kalau Anda masih ingat Soeharto, presiden terlama negeri kita yang dijuluki oleh O.G. Roeder sebagai “The Smilling General”. Pernahkah kita melihat beliau seperti SBY sekarang? Meski konon kejam dalam menghabisi lawan-lawan politiknya, namun di hadapan publik Soeharto senantiasa tersenyum. Ia jarang bicara, kecuali perlu. Bahkan tak pernah terlihat marah, jengkel atau “curhat” di hadapan umum. Senyuman selalu menjadi senjatanya.

Maka, publik yang tak pernah berhadapan langsung dalam konteks berseberangan pendapatnya dengan beliau akan menganggap Soeharto orang yang ramah. Dan memang demikian, tapi hanya kepada mereka yang mengikutinya dengan loyal. Walau kepada musuh-musuhnya, bisa jadi tidak begitu halnya.

Personal branding sama halnya dengan branding produk, merupakan “cara membungkus” belaka. Akan tetapi, tentu akan sangat mengecewakan konsumen apabila “bungkus” dan “isi”nya tak sama. Seperti halnya kekecewaan sebagian rakyat terhadap Soeharto dan SBY, dimana personal brand-nya ternyata memang “lebih indah dari aslinya”.

Bhayu

3 responses to “Personal Brand (2)

  1. Assalamu alaikum wr wb,

    Jadi inget pinjem potongan lirik lagu kelompok nasyid Raihan yang berjudul Senyum, …..senyumlah sedekah yang paling mudah…tiada terasa terhutang budi…. tapi senyumlah seikhlas hati…senyuman dari hati jatuh….. ke hati….senyumlah….senyumlah…. tapi senyum jangan……. di salah guna…he..he

    Wassalamu alaikum wr wb

    • Iya, senyum itu gampang. Tapi ternyata ada saja yang sampai perlu training atau perintah atasan utk melaksanakannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s