Fenomena Justin Bieber & YouTube

Seolah kebetulan yang disengaja, pasca “ribut-ribut nggak penting” yang berimbas pada ketenaran Briptu Norman Kamaru akibat mengunggah video lipsync lagu “Chaiya-Chaiyya” dari Shakh Rukh Khan di situs YouTube, hari ini Indonesia kedatangan seorang selebriti dunia yang juga memulai karir dari YouTube. Ya, dialah Justin Bieber. Remaja yang masih berusia 16 tahun ini kini menjadi selebriti yang didapuk bakal menggantikan Michael Jackson.

Saya tidak akan menulis panjang-lebar soal anak berbakat ini, karena Anda bisa baca di banyak media lain soal karir nyanyinya yang cemerlang. Saya justru tertarik mencermati fenomena di masyarakat kita terkait selebriti dunia hiburan. Entah kenapa, sepertinya mereka ini selalu jadi fokus perhatian terutama bagi masyarakat menengah ke bawah. Lihat saja bagaimana Briptu Norman Kamaru dielu-elukan. Saya sampai tertawa miris saat seorang wanita berjilbab bergoyang ala joget India di depan mobil yang membawanya pulang dalam arak-arakan di Gorontalo. Apa yang dia pikirkan ya?

Sama saja saat saya melihat berita TV tentang para remaja putri ABG yang menunggui Justin Bieber di bandara. Mereka sampai menangis begitu melihat pujaannya lewat, apalagi yang kecele karena yang ditunggu ternyata keluar lewat pintu kedatangan. Saya heran sekaligus tidak mengerti mengapa segitu doang sampai menangis. Saya yang lebih mudah menangis melihat acara semacam “Minta Tolong” atau menonton film Tanah Air Beta heran, kenapa cuma melihat idola saja sampai bisa menangis. Mungkin mereka juga heran saat melihat saya menangis melihat film tadi. Apa sih yang sedih? Saya sempat membaca komentar sinis ala ABG semacam itu terhadap film tersebut yang intinya mengatakan: “Film yang gak jelas ceritanya. Isinya cuma pesan cuci tangan sebelum makan aja.” (untuk resensi saya tentang film tersebut yang jelas tidak sesinis itu, baca kembali di sini).

Fenomena pengidolaan (atau bahasa teknis antropologisnya “idolatry”) yang berlebihan semacam itu menunjukkan bahwa pengagum mengidentikkan dirinya atau melekatkan atributnya kepada sang idola. Misalnya dengan menempelkan poster sang idola di kamar, ia merasa memiliki hubungan pribadi secara khusus dengan sang idola. Bahkan untuk Justin Bieber, meski ke mana pun ia konser selalu membawa pacarnya yang bernama Selena Gomez, para ABG cewek tak peduli. Seakan berprinsip “akan kukejar engkau selama janur kuning belum melengkung”. Padahal, kalau Bieber menikah kan jelas tidak pakai janur ya? Hehehe.

Demikian pula fenomena YouTube yang bisa melambungkan “orang biasa” yang “bukan siapa-siapa” menjadi pesohor seperti Bieber. “Demokrasi” di dunia maya memang luar biasa. Tak perlu repot-repot sekolah film atau audisi, kita sudah bisa meng-upload (atau mengunggah. Sama dengan padanan untuk download juga diambil dari bahasa Jawa yaitu mengunduh) ke situs ini. Web 2.0 membuat hidup tidak hanya “citizen journalism” melalui blog tapi juga “personal movie director” melalui situs seperti YouTube.

Fenomena ini telah menjadi “gaya hidup” baru bagi masyarakat. Dianggap modern dan berkelas. Tak heran, meski cuma lipsync, seorang Norman pun bisa jadi tenar. Walau tentu saja, ketenaran polisi ini rasanya hanya sesaat. Terlebih yang bersangkutan sendiri menyatakan tetap ingin jadi polisi daripada jadi artis. Fenomena Justin Bieber dengan YouTube-nya meneguhkan premis bahwa konsumerisme dan hedonisme makin menggejala di masyarakat kita. Naiknya taraf ekonomi masyarakat dengan indikasi GNP US$ 3.000/tahun menjadikan daya beli meningkat. Tak heran, kini dalam sebulan bisa ada satu-dua kali konser musik bertaraf besar digelar di Indonesia. Meski di satu sisi kita patut gembira karena kehidupan sebagian masyarakat membaik dan tentu juga ini berarti Indonesia dipandang aman untuk dikunjungi orang asing, namun di sisi lain kita patut prihatin karena fenomena “pamer kekayaan” dan “kejar kenikmatan” justru meluas. Lihat saja, berapa pun harga tiket konser Bieber malam ini, biar sudah dinaikkan di loket resmi -apalagi bila sudah di tangan calo-, tetap diburu oleh para “Belieber” (sebutan untuk fans Justin Bieber) yang terutama terdiri dari para ABG. Ironisnya, tiket mahal itu justru dibeli oleh mereka yang belum bisa mencari uang sendiri, karena tentu saja orangtuanya punya “pohon duit”. Duh, segitunya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s