Hakekat Perang

Hari ini, terbetik kabar pasukan koalisi menyerang Libya. Tindakan tersebut merupakan implementasi resolusi PBB nomor 1973 (2011) yang dikeluarkan 17 Maret 2011 lalu. Saya tidak membahas mengenai tindakan koalisi tersebut, namun lebih pada hakekat perangnya sendiri.

Perang merupakan suatu cara bagi manusia dan kelompoknya untuk memperluas pengaruhnya. Masing-masing berusaha agar dominasi mereka tak terlampaui oleh pihak lain. Perang yang dilakukan sekelompok orang (biasanya sudah melembaga dalam bentuk negara) merupakan perluasan dari “will to power” -meminjam istilah Nietzsche- yang dimiliki tiap individu. Bagi pihak pendukung perang, seperti diutarakan oleh  Carl von Clausewitz -seorang jenderal Prussia, Jerman- dalam bukunya On War, perang adalah “politik dalam arti lain.” Artinya, perang dipandang sah-sah saja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terutama melalui politik.

Dalam sejarah, perang pertama yang tercatat peradaban adalah Perang Kadesh, berlangsung tahun 1275 Sebelum Masehi. Kadesh adalah wilayah kota yang terletak di kaki pegunungan strategis yang sekarang terletak di Lebanon. Perang ini sendiri terjadi setelah bangsa Hittites mengokupasi kota tersebut yang sebelumnya dalam penguasaan kerajaan Mesir Kuno. Raja Ramses II Yang Agung mengirimkan pasukan besar untuk mengambil alih kota tersebut, namun dapat dipukul mundur. Akhirnya, tercapai kesepakatan damai dan pasukan Mesir kembali ke ibukotanya.

Apa yang menarik dari perang tersebut adalah kedua belah pihak sama-sama mengklaim kemenangan. Meski faktanya pasukan Ramses II dipukul mundur, namun ia mengklaim pertempuran tersebut sebagai kemenangan besar yang bahkan ditorehkan di berbagai prasasti, monumen dan kuil sebagaimana ditemukan kemudian di era modern. Namun yang terjadi sebenarnya adalah bangsa Hittites yang menang, dibuktikan dengan penguasaan atas kota tersebut yang terus berlangsung pasca Perang Kadesh.

Klaim kemenangan kedua pihak tersebut juga terjadi di nusantara, misalnya dalam Perang Bubat. Perang yang terjadi tahun 1360 tersebut diwarnai klaim dari dua pihak yang terlibat: Majapahit dan Sunda. Namun faktanya, Maharaja Linggabuana dari kerajaan Sunda beserta pasukannya gugur dalam pertempuran tersebut.

Meski cerita epik (seperti Sie Jin Kwie yang dipentaskan teater Koma misalnya) dan kini didukung teknologi film banyak mengagungkan para pahlawan perang, sesungguhnya perang adalah kekejaman. Film-film Steven Spielberg banyak menggambarkan hal ini dengan baik. Dalam perang, yang terjadi sebenarnya adalah pepatah: “menang jadi arang, kalah jadi abu”. Kedua belah pihak sama-sama rugi. Karena itu, jelas perang sebaiknya dihindari sebisa mungkin, demi kemanusiaan dan harkat kita sebagai manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s