Saya Pro-Bhinneka Tunggal Ika!

Bom yang meledak di Komunitas Utan Kayu dan melukai tiga orang terutama Kompol Dodi Rahmawan ditafsirkan sebagai serangan kepada kelompok pro-pluralisme (baca artikel di Kompas.com ini). Apalagi, sasaran dari paket bom berbentuk buku itu sebenarnya adalah Ulil Abshar Abdalla, salah satu Ketua DPP Partai Demokrat yang pernah menjadi Ketua Jaringan Islam Liberal (JIL).

Yang membuat saya bingung, ternyata ada dua bom lain yang dikirimkan kepada Kalakhar BNN (Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional) Komjenpol Gories Mere dan Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto Soeryosumarno. Kalau itu adalah serangan kepada kelompok pro-pluralisme, apakah kedua orang terakhir itu bisa dimasukkan ke sana? Saya kok tidak yakin. Meski dalam artikel tersebut -dimana berasal dari sebuah konferensi pers hari ini- disebut-sebut adanya tindakan teror terhadap kelompok pro-pluralisme termasuk pencurian data dalam komputer.

Apapun motivasi dan siapapun pelakunya, tindakan teror berupa apa pun, baik itu bom yang mematikan maupun sekedar telepon gelap, jelas tak bisa dibenarkan. Apalagi ini bila disinyalir pelakunya mencoba membungkam gerakan pro-pluralisme.

Harus diingat Saudara, para pendiri negara kita mendirikan Indonesia di atas dasar “Bhinneka Tunggal Ika”. Ini adalah pengakuan atas pluralitas dan kemajemukan bangsa kita. Kita ini berbeda-beda (agama, suku bangsa, bahasa daerah, warna kulit, perawakan, dsb), tapi satu bangsa: Indonesia.

Dalam konteks ini, selama kita bersepakat bahwa negara bernama Republik Indonesia masih layak dipertahankan, segala perangkat aturannya pun harus diikuti termasuk ideologi negara. Mengamalkan Pancasila, menghormati Sang Merah Putih, menyanyikan Indonesia Raya, dan bertoleransi dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika sama sekali tidak menggoyang keimanan agama apa pun. Karena itu saya heran, masih ada saja para fanatik dan fatalis buta yang mencoba memaksakan keyakinannya pada orang lain, tapi di sisi lain tak berani melakukan pemberontakan terbuka pada negara. Kalau memang mau mengganti dasar negara Pancasila dengan yang lain, berontak saja. Tanggung amat! Untuk apa mengirim bom sambil sembunyi. Itu namanya pengecut!

Maka, meski secara filosofi saya memiliki beberapa perbedaan pengertian dan penafsiran dengan para pluralis, saya memilih mempertahankan Indonesia. Oleh karena itu, saya jelas pro Bhinneka Tunggal Ika! Agama boleh apa saja, tapi Indonesia adalah tumpah-darahku!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s