Biografi Muhammad dan Yesus

Saat ini saya sedang asyik ‘melahap’ buku biografi Rasulullah Muhammad S.A.W. karya Martin Lings. Mungkin ada di antara LifeLearner yang sudah membacanya. Judul aslinya adalah Muhammad: His Life Based on the Earliest Source, yang telah diterjemahkan  ke dalam bahasa Indonesia menjadi Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (Jakarta: Serambi, 2007). Buku yang ditulis dengan gaya bertutur atau narasi dari sudut pandang saksi mata pencerita, membuat penulisnya seolah menyaksikan sendiri kejadian demi kejadian yang tertulis di sana.

Gaya bahasa dan cara penulisannya yang bak novel membuat saya lantas teringat pada buku karya Anne Rice berjudul Christ The Lord: Out of Egypt yang sudah saya baca lebih dulu. Buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kristus Tuhan: Meninggalkan Mesir (Jakarta: Gramedia, 2006).

Bedanya, bila buku Lings adalah sebuah karya ilmiah dengan riset ketat terhadap sumber-sumber otentik, buku Rice adalah murni novel belaka. Tidak ada sumber rujukan di dalamnya karena memang menceritakan masa kanak-kanak Yesus yang hilang, luput diceritakan dalam Bible.

Dari dua buku itu, saya dapat mengambil satu benang merah kesamaan, bahwa dua tokoh pendiri dua agama dengan jumlah pengikut terbesar di muka bumi saat ini tersebut sudah dijaga Tuhan semenjak kecilnya. Bahkan bila membaca buku ilmiah tentang Nabi Muhammad S.A.W. yang lain dari Annemarie Schimmel berjudul  And Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety, diterjemahkan menjadi Dan Muhammad adalah Utusan ALLAH: Penghormatan terhadap Nabi S.A.W. dalam Islam (Bandung: Mizan, 1991), kita bisa melihat bahwasanya Sang Nabi begitu dipelihara oleh Tuhan hingga bagi yang membaca riwayatnya apalagi mencermati aneka pujian yang dilantunkan baginya bisa salah mengartikan. Kenapa bisa salah mengartikan? Karena beliau memiliki mukjizat semasa hidupnya yang begitu banyak, sehingga bisa salah diartikan bahwa Sang Nabi adalah Tuhan sendiri atau manifestasinya. Schimmel memang menyebutkan, ada penyair yang berlebihan dalam memuji Sang Nabi hingga ia tampak bersifat ketuhanan. Padahal, hal ini dilarang keras dalam Islam. Muslim sejati yakin bahwa Tuhan tidak serupa atau menyerupakan diri menjadi manusia, dan manusia tak layak dijadikan Tuhan.

Buku tentang kedua tokoh besar dalam sejarah peradaban manusia tersebut menunjukkan, bahwa semasa mereka hidup keduanya selalu menghindari kekerasan. Perdamaian adalah lebih utama.

Perbedaannya, karena Muhammad benar-benar menjadi raja di dunia (selain beliau juga raja di sisi ALLAH S.W.T.), ia benar-benar memiliki pasukan. Maka, saat diperlukan, dimana perdamaian tak lagi bisa dipertahankan, Sang Raja bisa mengobarkan pertempuran. Akan tetapi Yesus meski dijuluki “Raja Yahudi dari Nazareth”, tak pernah benar-benar jadi raja di dunia. Karena menurut Bible, Yesus pernah berkata: “Kerajaanku bukan dari dunia ini; jika Kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaanku bukan dari sini.” (Yohanes 18:36). Karena itu, Yesus tak pernah berperang semasa hidupnya karena memang tak punya pasukan.

Namun nyatanya, dalam sejarah peradaban manusia, pengikut kedua tokoh terbesar tersebut sering sekali mengobarkan pertempuran atau kekerasan, alih-alih mendahulukan perdamaian. Bila sekarang umat Muslim sebagai pengikut Muhammad distigmatisasi sebagai teroris, di abad pertengahan umat Nasrani sebagai pengikut Yesus justru sering menebar teror atas nama agama.

Padahal, andaikata kedua orang besar tersebut masih hidup, saya yakin mereka akan mencegah pengikutnya berbuat semena-mena. Apalagi kepada umat seagama yang cuma berbeda penafsiran seperti Ahmadiyah. Di abad pertengahan, perbedaan penafsiran terhadap agama malah lebih runcing. Meski ada satu-dua hukuman mati bagi penyebar bid’ah, namun kekhalifahan Islam di timur dan di barat justru menjadikannya sebagai bagian dari dinamika keilmuan. Tak heran pemikiran Islam termasuk filsafat di abad pertengahan berkembang begitu luas. Maka dahulu pernah dikenal adanya aliran seperti Khawarij atau Mu’tazilah yang justru lebih ekstrem dalam beberapa pemikirannya dibandingkan Ahmadiyah sekarang.

Kembali pada biografi kedua tokoh pendiri agama tersebut, mempelajarinya kita akan merasakan kesejukan. Kesejukan karena keduanya jelas menganjurkan agama Tuhan yang lurus, yang penuh kasih dan damai. Bahkan anjuran itu dimulai dari teladan yang mereka contohkan sendiri. Tidak ada satu pun agama -termasuk agama yang dikenal sebagai “agama budaya” sekali pun- yang menganjurkan kekerasan. Semuanya mengutamakan perdamaian. Maka, mengapa kita sebagai umatnya kerap justru bertindak sebaliknya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s