Teladan

Karena saya beragama Islam, tentu teladan terbaik bagi saya adalah Sang Nabi mulia, Muhammad S.A.W. Bagi pemeluk agama lain, tentu pendiri, pembawa, penganjur agamanya masing-masing juga merupakan teladan. Itu bisa berarti Yesus Kristus, Siddharta Gautama sang “Buddha”, para resi atau orang-orang suci seperti Santo-Santa dan  tokoh-tokoh inspiratif seperti Bunda Theresa atau Mahatma Ghandi.

Apa yang sama dari para tokoh itu?

Ya, keteladanan. Mereka semua konsisten di jalur hidupnya masing-masing. Begitu rendah hati, amanah (sangat bisa dipercaya), ringan-tangan (gemar menolong), tidak bermewah-mewah, dan memiliki kepedulian sosial yang amat tinggi. Nabi Muhammad S.A.W. yang bukan saja seorang kepala negara, tapi juga panglima dan sesungguhnya kaya, namun hidup begitu sederhana. Demikian pula dengan Yesus yang hingga disalibkan pun tidak memiliki kekayaan berarti. Siddharta Gautama yang seorang pangeran malah memilih mengasingkan diri meninggalkan kejayaan dunia dan mencari kesempurnaan dengan bertapa di bawah pohon Boddhi. Demikian pula para pengikut taat atau penganut teguh (true believer) berbagai agama seperti Bunda Theresa atau Mahatma Ghandi.

Mereka semua memberikan inspirasi betapa kita yang hidup di zaman yang terasa sekali mendewakan materialisme kerap bertingkah-laku yang tak dapat diteladani. Hedonisme menjadi sebuah konsekuensi logis dari pendewaan materi secara berlebihan. Kita kerap lupa bahwa di sekeliling kita masih banyak sekali yang membutuhkan. Begitu lupanya hingga seringkali membuat saya malu.

Hari ini, saya merasakan tamparan itu lagi.

Saat kesulitan mencari parkir di Masjid Agung Sunda Kelapa yang terletak di kawasan elit Menteng, tepat di depan rumah dinas Wakil Presiden Jusuf Kalla yang kini kosong itu, saya melihat fenomena ironis. Mereka yang katanya  menyembah Tuhan, sama sekali tak peduli saat melewati orang yang membutuhkan. Dua orang yang saya lihat itu bukan pengemis profesional (saya menyebut mereka dengan istilah anggota PBA=Professional Beggar Association, karena mereka menjadikan pengemis sebagai profesi dan dikoordinir oleh boss). Keduanya lelaki, dan sudah tua. Satu orang cuma berjongkok di sudut jalan dengan gelas dan botol plastik hasil pungutan -ia juga bukan pemulung karena tidak ada keranjangnya-, tanpa meminta-minta. Satu orang lagi berwajah keturunan China malah cuma berjalan melintas, tanpa bermaksud berhenti untuk menengadahkan tangan. Namun, sembari berjalan ia memeriksa satu demi satu tempat sampah di rumah-rumah mewah di situ. Mungkin mencari-cari yang masih bisa dimakan karena ia saya lihat tidak memunguti gelas atau botol plastik.

Apa yang dilakukan orang-orang berbaju indah berwangi parfum harum yang mengendarai mobil bagus dan motor keren saat ke masjid megah itu? Tidak ada. Bahkan saya tidak yakin ada yang memperhatikan mereka selain saya. No. Saya bukan sedang menyombongkan diri. Saya malah sedang mengatakan bahwa saya malu.

Saya malu masih bisa makan enak dan terkadang bahkan mewah, sementara masih banyak yang kelaparan seperti itu. Saya malu begitu tidak bersyukur pada Tuhan. Saya pura-pura taat menyembah Tuhan dengan datang ke rumah ibadah yang ber-AC, tapi tak peduli ada yang kepanasan dan kehujanan tak punya rumah. Padahal para orang suci yang saya sebut di awal tulisan begitu mampu hidup dalam kesederhanaan, keprihatinan, seraya tetap berbagi dengan orang lain.

Jangankan besok, sore ini saja saya sudah akan lupa pada “kemaluan” saya sendiri. Tuhan, ampunilah saya. Ampunilah saya yang tak mampu mengikuti teladan para kekasih-Mu. Bila mengikuti teladan saja hamba tak mampu, apalagi menjadi teladan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s