Penggulingan SBY & Nasionalisme Indomie

Saya agak heran membaca pernyataan Menko Perek onomian Hatta Rajasa yang dilansir berbagai media hari ini. Beliau mensinyalir ada pihak yang ingin mencoba menjatuhkan Presiden SBY, dan tindakan itu dianggapnya inkonstitusional. Pernyataan itu dikeluarkannya di Istana Negara hari Selasa (12/10).

Sayang, media tidak menuliskan dalam konteks apa beliau mengatakan hal itu. Namun dari pantauan terhadap 6 koran pagi dan hampir semua situs berita dan opini internet Indonesia, tampaknya memang beliau “ujug-ujug” bicara begitu. Tidak ada hujan, tidak ada angin. Kompas edisi cetak hanya menuliskan adanya sejumlah pertemuan yang mengkritik pemerintah. Antara lain sejumlah tokoh di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan mahasiswa di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Saya pun jadi bertanya, apa mungkin beliau membaca blog ini? Karena dalam tulisan beberapa hari lalu (baca kembali di sini) saya antara lain menuliskan: “ada yang mengatakan Presiden kuatir “dikudeta”.” Tapi tentu itu cuma gosip politik, yang bisa simpang-siur tak karuan. Dan saya pikir tak perlulah seorang menteri, apalagi jabatannya Menko Perekonomian mengomentari masalah gosip politik yang tak jelas. Kasihan SBY, malah dibebani hal yang tak perlu jadinya.

Malah, seharusnya sebagai Menko Perekonomian beliau memperhatikan peristiwa penarikan mie instan asal Indonesia di Taiwan. Alasannya karena mengandung dua zat pengawet yang terlarang. Di dalam negeri, berita yang terdengar adalah penarikan mie instan bermerk “Indomie” saja. Padahal, The Public Health Bureau of Taipei County menarik semua mie instan yang diimpor dari negara kita.

Ini sebenarnya sudah persaingan dagang antar negara. Mungkin otoritas kesehatan Taiwan yang tentunya bekerjasama dengan otoritas perdagangannya bermaksud memberikan “kado”, mengingat tanggal 10 Oktober kemarin adalah hari nasional Taiwan atau nama resminya Republic of China.

Di Indonesia, para komentator di situs opini ramai berpendapat, persoalan itu merupakan masalah pabrik pembuatnya sendiri. Tak perlu pemerintah turut campur. Ini tentu dilandasi sentimen politis karena memang pemilik Indofood dikenal dekat dengan kekuasaan. Kalau Anda masih ingat, jingle Indomie dibeli hak pakainya oleh Fox Indonesia dan dipergunakan sebagai jingle resmi kampanye SBY dalam Pemilu 2009 lalu. Tentu saja dengan mengganti kata “Indomie Seleraku” dengan “SBY Presidenku”.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan anak usahanya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung-jawab dalam soal ini. Walau begitu, Menteri Perdagangan Mari Pangestu sudah bertindak cepat dengan mengirimkan pertanyaan mengenai standar Badan POM Taiwan, meski belum mendapatkan jawaban.

Terhadap ditemukannya zat berkode E218 (Methyl P-Hydroxybenzoate) dalam produk mie instan asal Indonesia, terutama Indomie, Badan Pengawasan Obat & Makanan (BPOM) Indonesia telah menyatakan kadarnya masih di bawah batas aman. Bahkan Singapura yang turut menginvestigasi melalui Agri-Food and Veterinary Authority (AVA) Singapura, juga telah menyatakan hal senada. Selain E218, BPOM Taiwan mensinyalir terdapat zat lain yaitu  parahydroxy natrium benzoat. Kedua zat ini tidak ditemukan oleh BPOM Singapura. Negeri jiran Malaysia yang biasanya bersikap negatif pun kali ini justru membela Indomie. Melalui Menteri Kesehatan Malaysia Datuk Seri Liow Tiong Lai, pada hari Rabu (13/10) dinyatakan Malaysia telah menguji 30 dari 77 sampel Indomie di pasar lokal dan tidak menemukan bahan pengawet hydroxyl benzoic acid methyl ester. (catatan: semua berita di paragraf ini berasal dari Vivanews. Dan saya heran kenapa jadi ada 3 nama zat ya? #garuk-garuk kepala)

Dalam hal ini, sejatinya kita harus bersikap nasionalis. Masalahnya bukan merk, tapi nama bangsa yang dipertaruhkan. Bahkan seorang Presiden A.S. saja sampai harus melobi negara yang tertutup seperti Uni Sovyet di masa lalu dan Republik Rakyat China agar membuka pasarnya bagi produk A.S. Kini, kita bisa menyaksikan gerai Mc.Donalds pun sudah tersebar di seantero negeri yang di masa lalu adalah musuh A.S. itu. Maka, justru konyol kalau kita menyebut pembelaan pemerintah terhadap soal ini diledek sebagai “nasionalisme Indomie”. Karena memang di sini justru nasionalisme kita terhadap produk dalam negeri yang harus dikedepankan. Sebab, masalahnya hampir pasti terkait proteksi perdagangan. So, untuk Pak Hatta, daripada sibuk mengomentari gosip politik tak jelas, lebih baik membela produk negara kita dari proteksi perdagangan negara asing yang berlebihan bukan?

2 responses to “Penggulingan SBY & Nasionalisme Indomie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s