Halal Bihalal TDA Sebagai Pencerahan Bisnis

Hari Sabtu kemarin, saya menyempatkan diri menghadiri halal-bihalal TDA pusat. Berbeda dengan milad yang diisi acara resmi di panggung, halal-bihalal ini lebih santai, walau juga diisi sharing session. Kemarin, lima orang berkesempatan bicara. Mereka adalah Jhody A. Prabawa, Erie Sudewo, seorang pengusaha sepatu dari Bogor, Jaya dan H. Alay. Tentu saja, acara diselingi dengan makan siang dan pembagian door prize. Karena jumlahnya banyak, sepertinya hampir semua peserta kebagian, termasuk saya. Eh, bagi yang belum tahu, TDA ini adalah komunitas pengusaha yang berbasis di milis, dipelopori oleh Badroni Yuzirman terutama melalui blog-nya. Singkatannya sendiri adalah “Tangan Di Atas”, yang tentunya berasal dari penggalan hadits Nabi Muhammad S.A.W. yang diriwayatkan dari banyak jalur, termasuk oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Malik dan Ad-Darami dengan derajat shahih:

{اليد العليا خير من اليد السفلى}

Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah.

Jhody sebagai pengisi sharing session pertama secara luas memaparkan pemahaman mengenai konsep berbuat “baik” dan “benar”, dalam kaitannya dengan social entrepreneurship. Tema acaranya sendiri memang “Membangun ukhuwah dengan social entrepreneur”. Teman kuliah S-2 saya ini ‘memamerkan’ keluasan pengetahuannya dengan mengkaitkan materi utama dengan aneka contoh, termasuk dari film seperti “Avatar”. Ia antara lain mengatakan bahwa untuk bisa mencapai derajat “Avatar” maka manusia harus mampu mengalahkan pikirannya sendiri. Karena menurutnya itulah orang paling hebat, bukan yang bisa membaca pikiran orang lain. Dalam menjawab pertanyaan saya pun ia menekankan bahwa menjadi “orang baik” tidak selalu harus menyenangkan orang lain, melainkan menekankan pada konteks apakah tindakan kita sudah “benar”.

Sementara Erie Sudewo sebagai salah satu pendiri Dompet Dhuafa Republika mengisahkan pengalamannya dan wawasannya yang luas. Antara lain saat ia berkunjung ke “Tabung Haji Berhad”, sebuah perusahaan pengelolaan dana haji di Malaysia. Ia menceritakan saat berkunjung ke sana cuma disambut resepsionis, padahal sudah memberitahukan sebelumnya. Ketika akhirnya Direktur Komunikasi-nya turun menemui, barulah ketahuan sebabnya karena pihak Malaysia kecewa. Di satu kesempatan di masa lalu pernah Menteri Agama Indonesia menyatakan akan berkunjung dengan 40 anggota rombongannya pada jam 2 siang. Maka makan siang disiapkan agar bisa disantap sekitar jam 1 siang. Namun tunggu punya tunggu, ternyata hingga jam 4 sore rombongan tak jadi datang tanpa pemberitahuan. Hal itu membuat pihak “Tabung Haji Berhad” merasa tak perlu lagi menyambut tamu dari Indonesia.

Namun Erie tak hanya bicara tentang itu. Karena yang terpenting ia menyoroti lemahnya SDM kita. Seorang manusia menurutnya terdiri dari 2 K, yaitu Kompetensi dan Karakter. Dari Kompetensi ada Kapasitas dan Kapabilitas. Dari kapabilitas ada unsur Kedisplinan, Konsistensi dan Kreativitas. Sementara ia justru menekankan kurangnya “Character Building” dari SDM kita, yang antara lain ditandai dengan Jujur dan Disiplin. Ini menurutnya sangat sedikit dari manusia Indonesia yang memilikinya, seraya menganjurkan peserta agar mengedepankan hal ini tentunya.

Sebelum H. Alay selaku penasehat TDA bicara, ia mempersilahkan seorang pengusaha sepatu asal Bogor untuk bicara. Berbeda dengan di seminar besar dimana pembicaranya hebat-hebat bergelar akademis banyak, haji ini (maaf saya lupa namanya) justru menampilkan kesederhanaan. Namun di balik kesederhanaan inilah tersimpan mutiara yang berkilau yang justru kerap dianjurkan di forum-forum besar oleh pembicara hebat. Apa mutiara itu? Namanya pelayanan. Ada yang menyebutnya “customer service”, tapi yang terbaru sering disebut “stewardship”. Beliau menggaris-bawahi bahwa bila pelanggan meminta sesuatu kita harus berupaya memenuhinya, meski saat itu yang diminta tak ada pada kita. “Insya Allah,” adalah kata yang musti diucapkan pada pelanggan saat diminta. Prinsip ini lebih dikenal dengan “Palugada” atau “Apa lu mau gua ada” di dunia bisnis.

Pembicara lain yaitu Jaya Setiabudi selaku Direktur Young Entrepreneur Academy mengetengahkan lika-likunya menyikapi bisnis. Salah satu yang menarik adalah pelajaran yang didapatnya dari Oom Bob Sadino tentang tiga lingkaran. Lingkaran terluar dibagi dua, hitam-putih, dimana kita kerap mengedepankan perbedaan. Lingkaran kedua yang tengah adalah wisdom, masih terbagi dua, tapi tanpa warna. Di sini masih ada perbedaan, walau yang lebih diutamakan adalah toleransi. Sementara lingkaran terdalam sudah tak ada garis pembaginya. Ini lingkaran ruhani, dimana logika dan perasaan kerapkali tak mampu lagi bermain. Di sini kerap disebut zero point atau lingkaran kepasrahan karena kita hanya tinggal menyerahkan hasilnya pada Tuhan.

Terakhir, sebelum menutup dengan do’a, H.Alay mengingatkan keterkaitan antara rezeki dengan Sang Pemberi Rezeki. Menurutnya, kalau mau dapat rezeki justru harus meningkatkan amal kita kepada Tuhan. Atau, malah kalau perlu kafir sekalian. Justru karena kedua golongan ini yang diberi rezeki banyak, namun dengan maksud berbeda. Kalau yang pertama untuk menjadi rahmat, yang kedua justru sebagai laknat. Tinggal kita mau pilih sisi yang mana.

Dari acara sederhana tersebut, bagi saya pribadi merupakan sebuah “Pencerahan Bisnis”. Tidak hanya mendapatkan beberapa teman baru, namun juga mendapatkan bahan perenungan: sudahkah langkah saya dalam hidup terutama saat mencari rezeki sudah sesuai dengan kehendak Sang Pemberi Rezeki dan bermanfaat bagi orang lain? Semoga kita semua dapat menjadi penebar rahmat bagi sesama. Aamiin.

20 responses to “Halal Bihalal TDA Sebagai Pencerahan Bisnis

  1. Cadas ! Keren Pak. Terimakasih atas informasinya, kebetulan saya berhalangan datang karena orangtua sakit dan juga lebih banyak mempersiapkan HBH TDA Tangerang yang waktunya memang mepet dengan HBH TDA Pusat.

    Kalo ada powerpoint atau makalah dari pembicara kemarin, apakah bisa saya minta dikirimkan via email juga?

    Nuhun,
    http://www.facebook.com/lykedizzkids

    • Alhamdulillah, terima kasih sudah membaca. Semoga orangtua cepat sembuh & diberi kelapangan oleh Allah SWT. Aamiin.
      Btw, utk Powerpoint/makalah setahu saya justru tidak ada. Karena semua pembicara menyampaikan langsung secara lisan. Tapi ada baiknya bila ditanyakan ke panitia [karena saya bukan panitia 😉 ].

  2. Buat pak Bhayu..terima kasih atas ulasan dan partisipasinya diacara HBH kemarin…
    untuk Kang Cece : atas nama TDA EO mohon maaf tidak bisa membantu, karena semua narasumber tidak menyediakan materi dan menyampaikan secara langsung (lisan) ..semoga berkenan.

    • Salam kenal juga Bu Ade. Saya tiap hari -insya Allah- posting di sini Bu. Kadang2 juga di Kompasiana/Politikana/blogdetik atau di website pribadi saya. Semoga jadi LifeLearner (sebutan utk pembaca blog ini) yg kerap berkunjung ya 🙂

  3. Terima kasih mas ulasannya. Bagus, Jelas.

    Hari itu rencananya ingin datang,lihat nama-nama pembicaranya yang bagus2 tentu menarik dan manfaat banget.

    Tapi sayang sekali ada acara mendadak. Setelah membaca ulasan mas Bhayu, alhamdulillah ……rasa gelo dan penasaran gak bisa datang jadi terhibur, dan terjawab sudah. Tq.

  4. Ping-balik: Halal Bihalal TDA Sebagai Pencerahan Bisnis | tdadepok.com·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s