Fenomena SBY

Apa pun kata orang tentang beliau, SBY merupakan fenomena. Ini tercermin dari banyak hal. Termasuk ketidaksukaan dan komentar-komentar miring terhadap apa pun yang dilakukan oleh beliau. Namun yang positif dan menggelitik tetap ada. Misalnya saja buku Wisnu Nugroho yang akrab dipanggil “Inu”, wartawan Kompas yang pernah bertugas di Istana. Ia kerap menuliskan pengalaman menggelitik tentang SBY dalam blognya di Kompasiana. Kini, tulisan-tulisan itu dibukukan dalam bentuk tetralogi dan ternyata mendapatkan sambutan luas dari masyarakat.  Buktinya, belum diluncurkan bukunya malah sudah cetak ulang (berita baca di sini).

Karena itu, hari ini saya menyempatkan diri hadir dalam launching bukunya di Gramedia Matraman. Sayangnya, saya datang terlambat karena sedang ada rekrutmen di kantor saya dan selain itu juga terhalang hujan deras (alasannya sangat teknis yaaa). Toh saya tak merasa terlalu rugi karena selain bisa membeli bukunya dengan harga diskon, juga masih sempat mendengarkan paparan pembahas yaitu Sukardi Rinakit dan Effendi Ghazali dalam menjawab pertanyaan peserta diskusi. Wisnu Nugroho sebagai penulis sendiri juga ikut membahas beberapa hal terkait bukunya dan SBY. (resensi buku setebal 431 halaman itu akan saya hadirkan segera).

Namun yang paling menarik adalah keterangan dari Sukardi Rinakit saat ia bertemu Soeharto pasca ia lengser. Bahkan tanggalnya Sukardi masih ingat, yaitu 9 Juni 1999. Saat itu Sukardi bertanya kepada beliau, siapakah presiden yang akan berkuasa selanjutnya. Pak Harto dengan santai menjawab, “cincin yang biasa saya pakai dan tongkat yang saya gunakan sudah saya berikan kepada Gus Dur.” Dan benar, ternyata Gus Dur terpilih jadi presiden berikutnya. Meski kemudian ia dilengserkan paksa pula dengan impeachment oleh MPR.

Sukardi juga membuka ‘rahasia’-nya bagaimana ia bisa bersuara keras mengkritik pemerintah di era Soeharto tanpa pernah ditahan. Ia mengakui pernah empat kali ditangkap, tapi segera dilepaskan kembali tanpa pernah dipenjara. Konon itu karena dirinya punya ‘sandaran’. Apa itu? “Sewaktu Pak Rudini menjabat, saya tuliskan pidato dan mengirimkan kepadanya. Ketika Pak Rudini diganti, saya melakukan hal yang sama kepada Pak Edi Sudrajat. Pas saya ditangkap, saya bilang kepada yang menangkap, Pak, saya penulis pidatonya Pak Rudini lho. Kalau tidak percaya, tanya saja ajudannya.” Sewaktu dia mengecek, ternyata benar. Lantas dia bilang, “Wah dik, kenapa nggak bilang dari tadi? Kalau tahu orang sendiri kan tidak begini…” Dan dilepaskanlah Sukardi.

Selain itu, juga diceritakan bahwa Edhie Baskoro Yudhoyono atau “Ibas” sempat mengirim sms kepada Inu sewaktu buku pertama diluncurkan. Isi sms memang tidak mengejutkan, karena sekedar basa-basi, namun justru pengirim sms itulah yang mengejutkan. Karena menurut Inu sendiri, ia merasa tersanjung di-sms oleh “juara Indonesia”. Tentu yang dimaksud adalah dalam hal perolehan suara sebagai calon anggota DPR dalam Pemilu 2009 lalu.

Inu sendiri sempat mengutarakan harapannya, semoga buku ini bisa membuat para pencinta SBY tambah mencintainya. Sementara bagi yang tidak mencintai semoga dapat “bertobat”. Ucapan ini segera direspon Effendi Ghazali dengan mengatakan, “atau justru membuat mereka yang mencintainya jadi bertobat.”

Hahaha. 😀

2 responses to “Fenomena SBY

  1. Pokoknya akur deh sama bang Effendi “Ucapan ini segera direspon Effendi Ghazali dengan mengatakan, “atau justru membuat mereka yang mencintainya jadi bertobat.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s